BEIJING – Malware Android bernama RatHat menjadi perhatian peneliti keamanan siber karena memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan perintah pada perangkat. Menurut para ahli keamanan seluler Zimperium yang dikutip CNET pada 20 September, malware ini dapat mencuri kredensial login, kode autentikasi, serta data keuangan pengguna.
Menyamar sebagai aplikasi populer
RatHat disebarkan melalui aplikasi palsu yang meniru layanan populer, termasuk Google Chrome. Dalam skenario yang ditemukan, pengguna dapat dialihkan ke situs web yang dibuat menyerupai Google Play Store. Dari halaman tersebut, mereka diminta mengunduh aplikasi yang tampak seperti aplikasi resmi.
Penyamaran itu menjadi bagian penting dari cara RatHat memperoleh akses ke perangkat. Setelah aplikasi terpasang, malware meminta izin Accessibility atau aksesibilitas. Fitur tersebut sebenarnya merupakan fungsi resmi Android yang ditujukan untuk membantu pengguna yang mengalami kesulitan berinteraksi dengan perangkat.
Namun, izin aksesibilitas juga memungkinkan aplikasi melakukan berbagai tindakan pada ponsel. Ketika diberikan kepada aplikasi berbahaya, akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk menavigasi sistem tanpa interaksi langsung yang biasanya dilakukan pengguna.
Membuka akses ke sistem Android
Zimperium menyebut RatHat menggunakan izin aksesibilitas untuk mengendalikan sejumlah proses di perangkat. Malware ini mengaktifkan Wireless Debugging, sebuah alat pengembang yang lazim digunakan dalam pengujian aplikasi.
Setelah itu, RatHat memberikan dirinya akses ke baris perintah pada tingkat sistem Android melalui ADB Shell. Rangkaian tindakan tersebut membuat malware dapat memperluas kendalinya terhadap perangkat. Dalam laporan para ahli, kombinasi aksesibilitas, Wireless Debugging, dan ADB Shell memungkinkan RatHat memperoleh kendali penuh atas ponsel Android yang terinfeksi.
Ancaman tidak berhenti pada pengambilalihan fungsi perangkat. RatHat juga memasang agen yang ditenagai AI. Agen tersebut digunakan untuk mengeksekusi perintah sistem dan mengumpulkan informasi dari perangkat korban.
Kemampuan itu membuat malware dapat menjalankan perintah secara lebih luas setelah memperoleh akses yang diperlukan. Data yang menjadi sasaran mencakup informasi untuk masuk ke akun, kode yang digunakan dalam proses autentikasi, dan data keuangan pengguna.
Temuan mengenai RatHat disampaikan oleh peneliti Zimperium dan diberitakan CNET pada 20 September. Penyebarannya melalui aplikasi yang menyamar sebagai layanan populer serta pemanfaatan fitur Android yang sah menjadi bagian dari rangkaian metode yang digunakan malware tersebut untuk masuk dan mengendalikan perangkat.
