Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat 8,7 Persen

0
273

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) merilis Utang Luar Negeri Indonesia (ULN) pada akhir April 2019 tercatat sebesar 389,3 miliar dolar AS. Meningkat 8,7 persen. Pertumbuhannya lebih tinggi dari periode Maret 2019 yang hanya 7,9 persen.

Meski demikian BI menilai utang luar negeri Indonesia masih terkendali dengan struktur yang sehat. Utang luar negeri Indonesia itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 189,7 miliar dolar AS, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar 199,6 miliar dolar AS.

Peningkatan itu disebabkan transaksi penarikan neto utang luar negeri dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

Posisi utang luar negeri pemerintah pada April 2019 tercatat sebesar186,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,4 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,6 persen. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman senilai 0,6 miliar dolar AS dan penurunan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) milik nonresiden senilai 0,4 miliar dolar AS akibat ketidakpastian di pasar keuangan global yang bersumber dari ketegangan perdagangan.

Pengelolaan utang luar negeri pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 18,8 persen dari total utang luar negeri, sektor konstruksi 16,3 persen, sektor jasa pendidikan 15,8 persen, sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib 15,1 persen, serta sektor jasa keuangan dan asuransi 14,4 persen.

Pertumbuhan utang luar negeri swasta mengalami peningkatan. Posisi utang luar negeri swasta pada akhir April 2019 tumbuh 14,5 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,0 persen. Ulang luar negeri swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara, serta sektor pertambangan dan penggalian dengan total pangsa 75,2 persen terhadap total utang luar negeri swasta.

Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2019 sebesar 36,5 persen, relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Selain itu, struktur ulang luar negeri Indonesia tetap didominasi oleh utang berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,2 persen dari total utang luar negeri.[rls]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here