Friday, June 12, 2026

Update Bencana Aceh: 366 Puskesmas Kembali Beroperasi

Share

Update Bencana Aceh: 366 Puskesmas Kembali Beroperasi

Upaya pemulihan layanan kesehatan di Aceh terus berjalan di tengah dampak banjir bandang dan longsor yang melanda pada akhir November 2025. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh memastikan sebagian besar fasilitas dasar kini kembali melayani warga, meski sejumlah wilayah masih bergulat dengan kerusakan yang belum sepenuhnya tertangani.

Ratusan Puskesmas Sudah Melayani Warga

Hingga kini, 366 puskesmas di 18 dari 23 kabupaten dan kota terdampak bencana telah kembali beroperasi. Kehadiran layanan ini menjadi penopang utama bagi masyarakat yang masih bertahan di pengungsian maupun yang mulai kembali ke permukiman masing-masing.

Namun, situasi belum sepenuhnya pulih. Masih ada 30 puskesmas yang belum bisa berfungsi optimal karena terdampak langsung bencana, mulai dari tertimbun lumpur hingga mengalami kerusakan berat. Kondisi paling sulit masih terlihat di enam kabupaten dan kota yang menerima hantaman paling parah.

Rumah Sakit Mulai Pulih, Aceh Tamiang Masih Terkendala

Untuk layanan rumah sakit, sebagian besar rumah sakit pemerintah di wilayah bencana disebut sudah kembali beroperasi dengan baik. Meski demikian, Rumah Sakit di Kabupaten Aceh Tamiang masih menghadapi keterbatasan karena sebagian peralatan medis belum bisa digunakan setelah terdampak banjir.

Di sektor swasta, lima rumah sakit swasta telah kembali melayani pasien. Sementara itu, tiga rumah sakit lainnya masih belum dapat berfungsi sepenuhnya karena kerusakan dan gangguan yang ditinggalkan bencana.

794 Tenaga Kesehatan Dikerahkan ke Lokasi Bencana

Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus, mengatakan sebanyak 794 tenaga kesehatan telah diterjunkan ke wilayah terdampak. Mereka terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, ahli gizi, ahli lingkungan kesehatan, dan tenaga medis lainnya yang disebar untuk memperkuat pelayanan di lapangan.

Ferdiyus menegaskan, perhatian utama saat ini diarahkan kepada kelompok rentan di pengungsian. Mereka diprioritaskan karena risiko penularan penyakit di lokasi penampungan jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Karena itu, layanan kesehatan tidak hanya difokuskan pada penanganan korban luka atau sakit, tetapi juga pada pencegahan agar situasi tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Berita Lainnya

Berita Terbaru