Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menambah sembilan profesor baru dalam Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Angkatan VIII di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Selasa, 22 September 2026. Dengan pengukuhan tersebut, jumlah guru besar di UIN Ar-Raniry kini mencapai 65 orang.
Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Prof Kamaruddin Amin, yang diwakili Staf Ahli Menteri Agama, Dr Faisal Ali Hasyim. Acara itu turut dihadiri pimpinan dan anggota senat serta para wakil rektor UIN Ar-Raniry.
Guru besar memikul amanah keilmuan
Dalam arahan Kamaruddin yang dibacakan Faisal, pengukuhan profesor disebut tidak berhenti pada seremoni akademik maupun penambahan jumlah guru besar. Jabatan tersebut, menurut Kamaruddin, membawa tanggung jawab keilmuan, moral, dan peradaban yang lebih besar.
“Guru besar adalah amanah keilmuan, amanah moral dan amanah peradaban. Gelar Profesor harus menjadi penanda lahirnya tanggung jawab yang lebih besar tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu membimbing generasi memberi solusi bagi persoalan masyarakat serta menghadirkan kemanfaatan ilmu bagi bangsa dan kemanusiaan,” demikian arahan Kamaruddin yang dibacakan Faisal.
Kamaruddin berharap sembilan profesor baru itu menjadi energi bagi UIN Ar-Raniry dalam memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, berkarakter, dan memiliki reputasi internasional. Ia juga mendorong para guru besar berperan sebagai pionir transformasi kampus menuju World Class University.
Transformasi tersebut, menurut arahan itu, perlu ditopang penguatan tradisi akademik, riset berkualitas, jejaring internasional, serta gagasan yang dapat menempatkan UIN Ar-Raniry sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan.
Jumlah profesor tumbuh hampir 200 persen
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman, menyebut pengukuhan sembilan guru besar sebagai momentum untuk meneguhkan capaian akademik sekaligus menyiapkan kampus menghadapi tantangan ke depan.
“Guru besar bukan hanya gelar akademik Ia adalah tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu menghasilkan karya membimbing generasi menjaga integritas akademik dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Mujiburrahman.
Ia berharap pengukuhan itu menjadi awal pengabdian yang lebih luas, bukan titik akhir perjalanan akademik para profesor. Menurutnya, kedudukan akademik yang semakin tinggi harus diikuti tanggung jawab yang semakin besar untuk menjadikan ilmu sebagai sumber kemaslahatan. Para guru besar juga dituntut membimbing mahasiswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif di tengah perkembangan teknologi serta tantangan global.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Prof Muhammad Yasir Yusuf, mengatakan pertumbuhan jabatan fungsional guru besar mencerminkan akselerasi sumber daya manusia unggul di kampus tersebut.
“Jika tahun 2022, UIN Ar-Raniry baru mempunyai 22 orang profesor, maka di tahun 2026, akhir masa jabatan Rektor UIN Ar-Raniry periode 2022-2026 menjadi 65 orang, tumbuh melonjak hampir 200 persen,” kata Yasir.
Sembilan profesor yang dikukuhkan
Sembilan guru besar baru UIN Ar-Raniry berasal dari berbagai bidang keilmuan, yaitu:
- Prof. Dr. Inayatillah, S.Ag., M.Ag., Guru Besar bidang Sejarah Peradaban Islam.
- Prof. Dra. Juwaini, M.Ag., Ph.D., Guru Besar bidang Filsafat Islam Klasik.
- Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Hum., Guru Besar bidang Sastra Inggris.
- Prof. Dr. Sri Rahmi, M.A., Guru Besar bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam.
- Prof. Dr. Muji Mulia, S.Ag., M.Ag., Guru Besar bidang Pemikiran Politik Islam Kontemporer.
- Prof. Dr. Fuadi Mardatillah, MA, Guru Besar bidang Filsafat Pendidikan Islam.
- Prof. Dr. Fakhri, S.Sos., M.A., Guru Besar bidang Komunikasi Dakwah.
- Prof. Dr. EMK Alidar, S.Ag., M.Hum., Guru Besar bidang Hukum Perdata.
- Prof. Dr. Ismail Anshari, M.A., Guru Besar bidang Inovasi Pengajaran.
