Friday, June 12, 2026

Tradisi Kanji Rumbi Ramadhan di Masjid Darussalam Langsa

Share

Di Kota Langsa, Aceh, tradisi kanji rumbi masih tetap menjadi salah satu kegiatan syiar Ramadhan di Masjid Darussalam Gampong Baroh. Setiap hari selama bulan Ramadhan, menu berbuka puasa yang merupakan kuliner khas Aceh ini disajikan untuk masyarakat setempat maupun musafir. Seorang Juru Masak Kanji Rumbi Veteran di masjid tersebut, bernama Mansur, mengatakan bahwa tradisi ini sudah berlangsung selama 30 hari setiap bulan Ramadhan.

Kegiatan kesibukan dimulai sejak pagi di dapur masjid dengan beras sebagai bahan utama yang harus direndam semalam sebelumnya. Mansur menghabiskan sekitar 15 kilogram beras atau setara dengan satu karung kecil (goni) untuk menghasilkan satu dandang besar kanji rumbi. Keistimewaan dari kanji rumbi ini terletak pada ramuan rempah “peurancah” yang kompleks, menggunakan berbagai jenis rempah hasil bumi Serambi Mekkah.

Bumbu yang digunakan termasuk ketumbar, jintan manis, merica, buah pala, bawang merah, putih, jahe, kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan bunga lawang. Semua bumbu digiling sebelum dibawa ke masjid, dan untuk memberikan rasa gurih, santan dari 40 butir kelapa juga digunakan. Bubur kanji ini juga diperkaya dengan wortel, kentang, daun sop, dan daun temurui yang memberikan aroma khas.

Seluruh proses memasak bubur ini dilakukan oleh tenaga pria yang dilakukan tanpa melibatkan ibu-ibu menurut tradisi di masjid tersebut. Tradisi pembagian bubur kanji di Masjid Darussalam ini telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Diperkirakan biaya operasional untuk satu dandang bubur mencapai Rp1 juta per hari, yang seluruhnya bersumber dari donatur dan sumbangan masyarakat.

Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi bukan sekadar makanan pengganjal perut. Rempah hangatnya dipercaya memiliki khasiat medis untuk melancarkan pencernaan dan menambah stamina setelah seharian berpuasa. Setiap sore, sekitar pukul 16.00 WIB, puluhan bungkus plastik berisi kanji rumbi tersusun rapi siap dibawa pulang atau dinikmati bersama di pelataran masjid saat berbuka puasa. Tradisi ini tidak hanya sebagai bagian dari kegiatan ibadah, namun juga memiliki nilai historis dan budaya yang kuat di kalangan masyarakat Aceh.

Source link

Berita Lainnya

Berita Terbaru