Telegram telah melakukan tindakan tegas dengan memblokir hampir 190.000 akun berbahaya dalam bentuk grup dan saluran. Aksi ini merupakan salah satu tindakan tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, menurut analisis Sputnik/RIA Novosti terhadap data statistik aplikasi tersebut. Sejak bulan Februari, lebih dari 187.000 grup dan saluran telah diblokir, menempatkannya sebagai angka tertinggi keempat dalam bulan tersebut.
Sejak awal Februari, Telegram telah memblokir total 2,04 juta grup dan saluran, termasuk 7.116 di antaranya terkait dengan terorisme. Jumlah keseluruhan grup dan saluran yang diblokir sejak Januari 2026 hampir mencapai 7,5 juta, termasuk 27.382 di antaranya terkait dengan aktivitas terorisme.
Proses moderasi Telegram telah terus berkembang sejak tahun 2015, melibatkan keluhan pengguna dan pemantauan proaktif berdasarkan pembelajaran mesin. Pada awal tahun 2024, Telegram meningkatkan alat moderasinya dengan dukungan dari kecerdasan buatan (AI). Aplikasi perpesanan Telegram sendiri didirikan pada tahun 2013 oleh Pavel Durov, pendiri dari platform media sosial Rusia, VKontakte.
Dengan jumlah pengguna aktif bulanan yang melebihi satu miliar, Telegram terus berkomitmen untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penggunanya. Tindakan blokir terhadap akun berbahaya merupakan salah satu langkah untuk menjaga integritas platform tersebut.
