Sistem Silvofishery Dinilai Jadi Jalan Tengah untuk Pulihkan Mangrove Aceh
Di tengah tekanan yang terus membayangi kawasan pesisir, sistem silvofishery kembali mengemuka sebagai pendekatan yang dinilai paling masuk akal untuk menjaga mangrove tanpa mematikan aktivitas akuakultur. Prof Mustanir, Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, menegaskan bahwa skema ini bukan sekadar konsep, melainkan solusi yang bisa menjembatani pemulihan ekosistem dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir Aceh.
Silvofishery dan Masa Depan Pesisir Aceh
Menurut Prof Mustanir, silvofishery memberi ruang bagi mangrove untuk tumbuh kembali sekaligus mempertahankan kegiatan budidaya perikanan yang sudah lama menjadi penopang hidup warga pesisir. Ia menilai pendekatan ini penting karena mangrove bukan hanya benteng alami dari abrasi, tetapi juga penyerap karbon, rumah bagi keanekaragaman hayati, dan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Ia juga menyoroti bahwa ancaman terhadap mangrove makin kompleks, mulai dari alih fungsi lahan, pencemaran, perubahan iklim, hingga praktik akuakultur yang tidak berkelanjutan. Dalam situasi seperti itu, silvofishery dipandang relevan karena menawarkan jalan tengah: ekosistem dipulihkan, sementara aktivitas ekonomi tetap bergerak.
Workshop Internasional Bahas Integrasi Mangrove dan Akuakultur
Pernyataan tersebut disampaikan dalam workshop internasional bertema “Dari Restorasi Menuju Keberlanjutan: Integrasi Mangrove dan Akuakultur melalui Sistem Silvofishery” yang digelar Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK. Kegiatan ini juga menghadirkan peneliti dari Kangwon National University, Korea Selatan, serta CEO Forest Environment & GeoSpatial Technology Research Institute.
Forum itu menjadi ruang untuk membahas bagaimana restorasi mangrove tidak berhenti pada penanaman semata, tetapi harus terhubung dengan model pemanfaatan yang tetap produktif. Dari sini, silvofishery diposisikan sebagai pendekatan yang menggabungkan konservasi, produksi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu kerangka kerja yang lebih realistis.
Tanggung Jawab Kampus Pesisir
Sebagai universitas yang berada di wilayah pesisir, USK Banda Aceh disebut memiliki tanggung jawab sekaligus peluang besar untuk ikut menjaga masa depan pesisir Aceh. Prof Mustanir menekankan pentingnya mengubah hasil riset menjadi tindakan nyata, data menjadi kebijakan, dan inovasi menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dengan memperkuat restorasi mangrove, mendorong akuakultur berkelanjutan, dan memastikan pendekatan itu memberi dampak langsung bagi warga, USK berharap kawasan pesisir Aceh tidak hanya bertahan dari tekanan lingkungan, tetapi juga tumbuh dengan fondasi yang lebih kuat.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
