Di medan perang modern, mahal belum tentu unggul. Itulah pelajaran yang kembali mencuat dari drone murah buatan Iran, Shahd-136, yang disebut berhasil merepotkan Amerika Serikat karena memaksa penggunaan sistem pertahanan berbiaya sangat tinggi untuk menghadapi senjata sederhana yang diproduksi dengan ongkos jauh lebih rendah.
Drone murah yang memaksa respons mahal
Shahd-136 diperkirakan hanya bernilai sekitar USD20.000 hingga USD50.000 per unit. Namun, untuk menghentikannya, Amerika Serikat mengandalkan rudal Patriot yang harganya bisa mencapai USD4 juta per peluru, belum termasuk sistem radar yang nilainya mencapai ratusan juta dolar. Ketimpangan biaya ini membuat drone tersebut menjadi simbol baru perang asimetris: alat tempur sederhana bisa memaksa lawan menghabiskan sumber daya jauh lebih besar.
Secara fisik, Shahd-136 juga tidak terlihat seperti perangkat militer berteknologi tinggi. Drone ini memakai mesin bensin 4 silinder, bodinya terbuat dari plastik dan kayu, serta diluncurkan dari truk yang dimodifikasi. Di lapangan, perangkat ini bahkan dijuluki sebagai “sepeda motor terbang” karena karakter mesinnya yang sederhana namun tetap efektif dalam operasi tempur.
Pengakuan dari Washington
Menariknya, Menteri Pertahanan AS Hegseth mengakui bahwa drone Iran tersebut “lebih sulit ditaklukkan daripada yang diperkirakan.” Pernyataan itu memperkuat gambaran bahwa ancaman di perang modern tidak selalu datang dari platform paling canggih, melainkan dari sistem yang dirancang murah, mudah diproduksi, dan cukup merepotkan untuk dihadapi.
Dalam lima hari pertama serangan, diperkirakan rudal Patriot senilai USD2,4 miliar telah digunakan untuk menembak jatuh senjata yang secara teknis hanya mengandalkan mesin sepeda motor dan baling-baling kayu. Kontras inilah yang membuat Shahd-136 menjadi sorotan: biaya produksi rendah, tapi dampak strategisnya mampu memaksa pertahanan lawan bergerak dengan harga yang sangat mahal.
Pelajaran dari perang asimetris
Kasus Shahd-136 memperlihatkan bahwa ukuran, harga, dan kesan sederhana bukan ukuran mutlak dalam perang udara. Di saat sistem pertahanan canggih seperti Patriot dikerahkan, drone murah semacam ini justru menguji efisiensi dan ketahanan persenjataan negara besar. Dari sudut pandang militer, situasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi rendah biaya masih bisa mengganggu pertahanan modern secara signifikan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
