Sunday, October 11, 2026

Rekayasa Sosial Penyebab 99% Fraud Perbankan

Share

Dibutuhkan Kewaspadaan Ekstra: Hampir 100 Persen Kasus Penipuan di Sektor Perbankan Berasal dari Social Engineering

Kejahatan siber di Indonesia semakin berkembang dan menunjukkan pergeseran dalam targetnya. Tidak lagi hanya menyerang melalui sistem teknologi, tetapi kini lebih memanfaatkan psikologis manusia yang berada di belakang sistem tersebut. Data yang disampaikan oleh Senior Adviser Fraud Banking Investigation Bank Central Asia (BCA), Wani Sabu, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 99 persen kasus penipuan di sektor perbankan berasal dari social engineering atau rekayasa sosial.

Modus Operandi Social Engineering

Menurut Wani, modus operandi social engineering ini memanfaatkan berbagai emosi korban, mulai dari rasa senang hingga rasa cemas. Para pelaku kejahatan tersebut seringkali menggunakan iming-iming seperti voucher atau undian berhadiah, bahkan ada yang berpura-pura menjadi petugas customer service dari berbagai lembaga keuangan atau instansi resmi. Hal ini diungkapkan dalam acara seminar yang bertajuk “Now You See: Now You Aware” yang diselenggarakan oleh PT Akar Inti Solusi di CGV Grand Indonesia, Studio ScreenX, Jakarta Pusat.

Wani menekankan bahwa kejahatan siber yang menggunakan social engineering masih menjadi masalah serius di Indonesia. Banyak orang rentan terjebak karena kurangnya kewaspadaan ketika dihubungi oleh orang asing yang menawarkan berbagai macam hadiah atau mengirimkan tautan yang mencurigakan. Beliau menyarankan agar tidak terpancing dengan rasa FOMO dan untuk selalu memeriksa kembali keabsahan informasi sebelum mengambil langkah selanjutnya. Hal sederhana seperti tidak mengunduh aplikasi yang tidak dikenal bisa menjadi langkah awal yang efektif dalam melindungi diri dari ancaman kejahatan siber.

Source link

Table of contents [hide]

Berita Lainnya

Berita Terbaru