TAPAKTUAN – Para pekerja transportasi pengangkutan barang mengeluh sering dipungli oleh oknum polisi di perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Pungli dilakukan di pos pos liar (pos monyet) di jalan lintas antar provinsi tersebut.

Muzakir, sopir mobil angkutan barang dari Meulaboh, Aceh Barat kepada wartawan di Tapaktuan, Selasa, 9 Agustus 2016 menuturkan, sedikitnya ada sekitar 14 titik pungli yang dilakukan oknum tertentu. Pos pungli pertama ada di pintu perbatasan Aceh-Sumut (Gajah Putih). Pos pungli di lokasi tersebut menggunakan rumah di pinggir jalan tanpa ada plang nama apapun.

“Dulu di pos liar itu berdiri oknum aparat, namun belakangan ini sudah di kedepankan anak –anak muda warga setempat. Saya pernah diminta uang Rp 20.000 di pos liar itu, tapi saya tolak menyerahkannya kecuali hanya menyanggupi Rp 5.000,” bebernya.

Setelah memasuki wilayah Sumatera Utara, kata Muzakir, pihak awak angkutan kembali dihadapkan dengan persoalan pungli setidaknya di 13 titik lokasi lagi. Menurut dia, rata-rata jumlah pungli yang dipungut kepada awak angkutan sekitar Rp 10.000 di setiap pos.

“Itu belum lagi setoran yang wajib dibayarkan kepada tiga pos timbangan masing-masing adalah timbangan Subulussalam, Sidikalang dan Sibolangit dengan besaran mencapai Rp 100.000/timbangan. Anehnya lagi, kewajiban setoran untuk timbangan itu berlaku terhadap mobil angkutan pulang pergi (PP),” ungkapnya.

Pihaknya meminta kepada pejabat terkait di jajaran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Sumatera Utara segera menertibkan atau memberantas praktik culas yang sangat meresahkan awak angkutan barang dari Provinsi Aceh tersebut. “Kami meminta kepada pihak berwenang segera menertibkan serta memberantas praktik kotor itu,” harapnya.[Hendri Z]

Previous articleAceh Selatan Gelar MTQ Antar Pejabat
Next articleRapat Banleg DPRK Aceh Selatan Ricuh
Redaksi Teropong Aceh. Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here