Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh membawa pendekatan berbeda dalam edukasi kesehatan untuk anak berkebutuhan khusus. Lewat program LOVE atau Language of Visual Expression, mereka mengenalkan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dengan cara yang lebih dekat dengan dunia visual dan empati, bukan sekadar ceramah medis biasa.
Edukasi P3K yang Disesuaikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Kegiatan ini digelar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Banda Aceh dan diikuti 14 murid dengan dukungan 20 mahasiswa Fakultas Kedokteran USK. Program tersebut dirancang agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat memahami dasar-dasar penanganan keadaan darurat, termasuk saat mengalami mimisan, tersedak, dan kondisi lain yang membutuhkan tindakan awal.
Melalui LOVE, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi kesehatan, tetapi juga belajar membaca respons peserta lewat bahasa visual. Pendekatan ini dipandang penting karena dunia medis tidak selalu bergantung pada kata-kata. Dalam banyak situasi, kemampuan memahami isyarat, ekspresi, dan komunikasi nonverbal justru menentukan kualitas layanan yang diterima pasien.
Belajar Empati dari Ruang Kelas SLB
Program ini juga menjadi ruang latihan bagi calon dokter untuk mengasah kepekaan sosial. Di satu sisi, anak-anak mendapatkan pengetahuan praktis tentang P3K. Di sisi lain, mahasiswa kedokteran belajar bahwa pelayanan kesehatan yang baik harus mampu menjangkau semua kalangan, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan komunikasi berbeda.
Wakil Kepala SLB Negeri Banda Aceh, Irmayanti, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyebut edukasi P3K ini sebagai yang pertama kali dilakukan di sekolah luar biasa itu. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberi nilai tambah bagi peserta didik, terutama anak tuna rungu dan autis, karena materi yang disampaikan sangat relevan dengan situasi sehari-hari.
Respons Positif dari Sekolah
Inisiatif mahasiswa USK ini dinilai penting karena memberikan bekal dasar kepada anak-anak untuk merespons keadaan darurat secara lebih tepat. Selain itu, program LOVE juga menegaskan bahwa pendidikan kedokteran tidak hanya soal kecerdasan akademik, tetapi juga tentang kemampuan menyampaikan kepedulian lewat cara yang mudah diterima oleh pasien.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
