Polisi Musnahkan Satu Ton Lebih Ganja Sitaan

0
266

BLANGKEJEREN – Satu ton ganja dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Mapolres Gayo Lues. Barang haram tersebut merupakan hasil sitaan polisi dari beberapa kasus dalam kurun waktu setahun terakhir.

Kasat Narkoba Polres Gayo Lues, Iptu Syamsuir, Rabu, 11 September 2019 menjelaskan, ganja yang dimusnahkan berjumlah 1.092 Kg ganja kering siap edar dan 500 batang ganja hasil temuan dari ladang hutan Leuser.

“Ganja yang dimusnahkan ini berasal dari enam kasus, yaitu 360 Kg ganja yang tersangkanya Sul Karnaini, 162 Kg ganja dari TSK Rejeb (DPO), 500 batang ganja dari sisa pemusnahan ladang narkotika di Pegunungan Kecamatan Pining yang tersangkanya atas nama Hasan Basri alias Cak, 120 Kg ganja dari tersangka Robinson (DPO), 200 Kg ganja tak bertuan dari Putri Betung, dan 250 Kg ganja hasil temuan dari desa Agusen,” katanya di hadapan Wakapolres Kompol Andiano, Direktur Pemberdayaan BNN RI Brigjen Pol Anjar Dewanto, Kepala BNNK Gayo Lues, perwakilan TNI, Kejaksaan, Kadis Kesehatan dan undangan lainya.

Direktur Pemberdayaan BNN RI Brigjen Pol Anjar Dewanto dalam sambutanya mengatakan, Gayo Lues dan beberapa kabupaten lainnya di Aceh masih menjadi sumber penanaman ganja, dan untuk memberantasnya, tugas itu bukan saja diemban oleh Polri dan BNN, tetapi seluruh lini masyarakat harus bersama-sama untuk memberantasnya.

“Ganja memang memiliki manfaat untuk kesehatan, tetapi lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya, dan untuk mengalihkan petani ganja menanam tanaman lain bukan perkara yang mudah, kita harus bersama-sama meyakinkan penanam ganja ini agar mau menanam kopi, serai wangi dan jagung untuk penghasilanya, sehingga tidak lagi menanam ganja,” katanya.

Saat ini kata Anjar, ganja memang kalah bersaing dengan narkotika jenis sabu-sabu, baik dari harga, pemasaran, dan kemudahan menyelundupkanya. Bayangkan saja, harga 1 Kg sabu mencapai Rp 1 miliar lebih, sedangkan harga ganja hanya berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Mari sama-sama kita berantas peredaran narkoba ini, dan kedepan kita harus membuat Tim Asasmen Terpadu yang tergabung dari berbagai unsur, sehingga bagi pengguna narkoba yang baru satu kali menggunakan sudah ketangkap, tidak perlu dihukum dibalik jeruji besi karena bisa tambah parah setelah keluar nantinya, tetapi cukup iadili oleh TAT ini, dan kedepanya di rehabilitasi saja,” jelasnya.

Bagi daerah yang penduduknya banyak menggunakan sabu kata Anjar Dewanto, angka kriminalitas sudah bisa dipastikan meningkat, sebab, jika penggunanya adalah laki-laki, maka ketika kebutuhan pembeli sabu tidak terpenuhi akan melakukan pencurian, perampokan hingga begal, dan jika penggunanya perempuan, bisnis prostitusi akan menjadi pekerjaan utama untuk mendapatkan uang dengan mudah. [Win Porang]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here