Pada tanggal 27 Maret, Iran meluncurkan serangan rudal yang mengenai pesawat komando dan kendali E-3 AWACS milik AS di pangkalan udara di Arab Saudi. Serangan ini dianggap sebagai kerugian signifikan bagi Angkatan Udara AS. Pesawat E-3 Sentry AWACS hancur dalam serangan tersebut, menyebabkan lebih dari 10 tentara Amerika terluka, termasuk dua yang mengalami luka serius. Koalisi Internasional melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menolak memberikan komentar terkait insiden ini.
E-3 AWACS adalah sistem komando dan kendali udara AS yang memiliki kemampuan melacak ancaman dalam radius 400 km, mengoordinasikan operasi udara, pengisian bahan bakar, pengeboman, dan pengumpulan intelijen. Dalam konflik dengan Iran, peran AWACS sangat penting dalam melacak drone lawan, mengoordinasikan pesawat tempur F-35, dan mengatur pertahanan rudal pencegat.
Kerusakan pada pesawat E-3 disebut sebagai parah, dengan beberapa penilaian menyebutkan bahwa pesawat tersebut mungkin tidak dapat beroperasi lagi. Saat ini, Angkatan Udara AS hanya memiliki 16 pesawat E-3 Sentry yang masih aktif, dan pesawat pengganti E-7 Wedgetail mengalami penundaan hingga diperkirakan baru akan tiba pada tahun 2028. Para ahli militer memperingatkan bahwa kehilangan satu pesawat E-3 sangat merugikan dan menekankan pentingnya percepatan pengadaan pesawat E-7 generasi berikutnya untuk mengatasi kerugian ini.
