Pelaku UMKM Simeulue Hadapi Tantangan Permodalan dan Alat Produksi Konvensional
Di Simeulue, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyatakan bahwa permodalan menjadi tantangan utama bagi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas tersebut, Fitri Sri Mulyani, mengungkapkan bahwa dari 3.000-an UMKM yang terdaftar, banyak yang terkendala modal.
Permodalan dan Alat Produksi Konvensional sebagai Kendala Utama
Menurut Fitri Sri Mulyani, selain masalah permodalan, pelaku UMKM Simeulue juga masih menggunakan alat produksi konvensional. Hal ini membuat mereka kesulitan dalam meningkatkan produktivitas usaha. Meskipun telah berusaha mengembangkan usaha di berbagai sektor, seperti perikanan, pertanian, perkebunan, dan perdagangan, namun kendala tersebut masih menjadi hambatan utama.
Fitri Sri Mulyani juga menyebutkan bahwa beberapa usaha UMKM di Simeulue fokus pada pengolahan hasil perikanan, pertanian, dan perkebunan, serta perdagangan kebutuhan pokok masyarakat. Selain itu, produk olahan makanan seperti keripik, ikan asin, dan suvenir juga menjadi andalan pelaku UMKM di daerah tersebut.
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sebagai Solusi
Untuk mengatasi masalah ini, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi solusi potensial bagi UMKM di Simeulue. Melalui kerja sama dengan koperasi ini, pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran produk mereka serta meningkatkan kegiatan perdagangan secara keseluruhan. Meskipun KDMP sudah terbentuk di seluruh desa di 10 kecamatan Kabupaten Simeulue, namun operasionalnya saat ini masih dalam tahap persiapan.
Dengan adanya upaya pemkab dan dukungan dari KDMP, diharapkan pelaku UMKM Simeulue dapat mengatasi tantangan permodalan dan alat produksi konvensional yang selama ini menghambat perkembangan usaha mikro kecil dan menengah di daerah tersebut.
