Serangan rudal di Teheran, Iran, pada minggu lalu mengguncang dunia dengan keberhasilan CIA dan intelijen Israel melacak pergerakan Ayatollah Ali Khamenei selama berbulan-bulan. Kematian pemimpin tertinggi Iran dan jajaran komando tingginya menandai perang modern di mana teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), serangan siber, dan drone murah menjadi senjata utama di medan pertempuran.
Operasi mematikan yang terjadi merupakan hasil orkestrasi teknologi canggih yang melibatkan pelacak gerak-gerik AI dari Palantir, serangan siber melalui peretasan aplikasi ponsel, dan pengerahan massal drone “murahan” yang meniru teknologi milik Iran. Negara-negara adidaya mulai mengadopsi taktik hibrida dengan menggabungkan teknologi canggih dengan ribuan unit drone serbu sekali pakai yang ramah di kantong anggaran.
Drone LUCAS, dengan harga per unitnya hanya sekitar USD35.000 atau sekitar Rp588 juta, menjadi bagian penting dalam melumpuhkan Iran. Didukung oleh desain yang terinspirasi dari drone Iran, drone ini membantu merontokkan sistem radar anti-pesawat musuh, menjadi pelengkap dari perangkat super mahal seperti rudal dan jet tempur.
Para ahli di bidang keamanan nasional dan teknologi pertahanan mengakui bahwa era senjata dengan harga terjangkau telah dimulai, membawa perubahan signifikan dalam strategi pertempuran global. Dengan demikian, peranan drone murah dan kecerdasan buatan menjadi faktor kunci dalam transformasi perang modern.
