TAPAKTUAN – Proyek penangkaran bibit padi unggul di Balai Benih Utama (BBU) Kluet Timur, Aceh Selatan tahun 2016 lalu ditengarai sarat masalah. Adalah Lembaga Independen Bersih Aceh Selatan (Libas) yang mengungkapkan hal tersebut.

Ketua LSM Libas, Mayfendri mengungkapkan, dari ratusan juta rupiah anggaran yang dialokasikan melalui sumber APBA dan Otsus tahun 2016 untuk mengembangkan 7 hektar bibit unggul jenis impari 30 dan hebrida, termasuk bantuan pupuk beserta ongkos tanam, hingga telah memasuki akhir bulan Mei 2017 yang telah direalisasikan hanya baru seluas 1/4 hektar, sedangkan sisanya masih nihil.

“Atas dasar inilah kami menduga bahwa realisasi proyek penangkaran bibit padi unggul di BBU Kluet Timur tersebut sarat penyimpangan,” ungkap Mayfendri kepada wartawan di Tapaktuan, Senin, 29 Mei 2017.

Padahal, sambung Mayfendri, sesuai program yang dirancang Pemerintah Aceh melalui dinas terkait, dari seluas 1 hektar penangkaran bibit unggul tersebut harus menghasilkan bibit padi yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat petani seluas 10 hektar. Sehingga dengan luas total penangkaran bibit unggul tersebut 7 hektar maka seharusnya ada seluas 70 hektar lahan sawah petani di Aceh Selatan yang mendapatkan bantuan bibit gratis dari BBU Kluet Timur.

“Namun yang anehnya, berdasarkan hasil pengecekan ke lokasi yang telah kami lakukan, masyarakat petani justru tidak menerima bantuan bibit gratis dari hasil penangkaran bibit unggul di BBU Kluet Timur tersebut,” jelas Mayfendri.

Pihaknya kepada aparat penegak hukum baik kepolisian maupun kejaksaan segera mengusut kasus tersebut. “Kami meminta aparat penegak hukum segera mengusut dugaan korupsi ini, sehingga dugaan praktik culas tersebut tidak merugikan masyarakat petani di Aceh Selatan,” pinta Mayfendri.

Kepala Balai Benih Utama (BBU) Kluet Timur, Ida Mestika sejauh ini belum berhasil dikonfirmasi. Didatangi ke kantornya di BBU Kluet Timur yang bersangkutan sedang tidak berada ditempat di hubungi ke ponselnya sedang tidak aktif. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat (SMS) yang dikirim juga tidak dibalas.

Beredar kabar pasca mencuatnya kasus tersebut ke permukaan sempat memantik kemarahan besar Kepala Dinas Pertanian Aceh Selatan, Yulizar. Bahkan, oknum kepala BBU Kluet Timur, Ida Mestika, disebut-sebut sempat diberi Sanksi tegas yakni dibebaskan tugaskan untuk sementara waktu dari jabatan kepala BBU.

Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang juga mantan Kepala Bidang Pengembangan Produksi pada Dinas Pertanian Aceh Selatan, Ishaq, Senin, 19 Mei 2017 menjelaskan, dari seluas 7 hektar penangkaran bibit di BBU Kluet Timur pihaknya telah merealisasikan seluas 5 hektar lebih pada musim tanam gadu tahun 2016 lalu. Sisanya akan direalisasikan kembali pada musim tanam rendengan tahun 2017.

“Tidak benar realisasinya baru 1/4 hektar. Sebab pada kenyataannya kami sudah merealisasikannya seluas 5 hektar lebih. Sedangkan sisanya kembali akan direalisasikan tahun 2017 ini, prosesnya saat ini sedang pengolahan tanah dan sedang menunggu penyemaian bibit, mungkin dalam waktu dekat segera akan ditanam,” jelas Ishaq.

Menyangkut hasil yang diterima tidak sesuai seperti diharapkan pada proses penanaman tahap pertama tahun 2016 lalu, menurut Ishaq hal itu disebabkan karena penangkaran bibit padi unggul tersebut terjadi gagal panen akibat diserang hama keong dan hama burung pipit kepala putih.

“Akibat sangat parah terjadi serangan hama ditambah lagi terjadi bencana banjir yang merendam bibit padi, memaksa kami harus melakukan proses penanaman sebanyak tiga kali. Setelah dua kali mengalami gagal panen, pada tanam ke tiga baru menghasil produksi yang memadai,” ujarnya.

Terkait dengan bibit padi hasil penangkaran di BBU Kluet Timur tersebut belum dibagikan kepada masyarakat petani sampai sekarang ini, menurut Ishaq disebabkan karena pihaknya belum selesai melakukan proses pendataan dan verifikasi petani penerima bantuan.

Dia memastikan bahwa jika proses pendataan petani tersebut telah selesai maka pihaknya segera membagikan bibit padi unggul hasil penangkaran tersebut. “Bibit padi hasil penangkaran tahun 2016 lalu sampai saat ini masih tersimpan utuh di Gudang BBU Kluet Timur, jika perlu boleh dicek ke lokasi,” tegasnya.

Ishaq juga menjelaskan bahwa, selain bantuan bibit padi unggul dan pupuk sebesar Rp 40 juta untuk pengembangan lahan penangkaran bibit seluas 7 hetar di BBU Kluet Timur tersebut. Pemerintah Aceh melalui dinas terkait juga menganggarkan dana melalui APBA tahun 2016 untuk biaya pengolahan tanah, biaya untuk cabut bibit, pembersihan rumput, semprot, pemupukan, biaya penanaman, biaya prosesing panen dan biaya petugas jaga hama burung dengan total anggaran mencapai Rp 30 juta.

Selain di BBU Kluet Timur, sambung Ishaq, proyek penangkaran bibit padi unggul tahun 2016 lalu juga ada yang dikelola langsung oleh masing-masing kelompok tani melalui sumber dana Otsus tahun 2016.

Kelompok tani tersebut masing-masing terdapat di Kecamatan Labuhanhaji Timur seluas 20 hektar, di Gampong Ie Dingen Kecamatan Meukek seluas 15 hektar, Kecamatan Pasie Raja seluas 15 hektar, termasuk yang di kelola oleh tiga kelompok tani di Kecamatan Kluet Utara melalui sumber APBA tahun 2016 seluas 60 hektar.‎

“Khusus yang dikelola oleh kelompok tani maka penggunaan hasil produksinya menjadi kewenangan mutlak kelompok tani bersangkutan, apakah untuk digunakan kembali oleh masing-masing anggota kelompoknya atau dijual dimana hasilnya akan dimanfaatkan atau dibagi rata sesama anggota kelompok,” kata Ishaq.[HM]

Previous articleHingga Akhir Mei 2017, Dana Desa di Gayo Lues Belum Cair
Next articleTim Gabungan Razia Petasan Berbahan Peledak Kuat
Redaksi Teropong Aceh. Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here