Aceh Tamiang Fokus pada Pengembangan Budidaya Melon pasca Bencana Banjir
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan, tengah memfokuskan upaya pengembangan budidaya melon sebagai langkah pemulihan ekonomi masyarakat setelah terdampak banjir. Hal ini menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan petani di daerah tersebut.
Potensi Pengembangan Melon di Aceh Tamiang
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, menyampaikan bahwa pengembangan budidaya melon menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu contohnya adalah Kelompok Tani Melon Mutiara di Desa Tanjung Seumantoh, yang berhasil menghasilkan melon varietas golden dengan harga jual yang cukup tinggi.
Irwan Hadi juga menambahkan bahwa saat ini, banyak petani di Aceh Tamiang mulai beralih ke sektor hortikultura dengan menanam melon varietas seperti green new madesta premium dan golden alisha F1. Kedua varietas melon ini memiliki keunggulan tahan terhadap penyakit dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah berhasil memanen melon sebagai upaya pemulihan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Sebelumnya, benih melon yang ditanam sempat terendam banjir, namun petani tidak menyerah dan berhasil memulihkan tanaman hingga panen perdana.
Beni Fauzi menjelaskan bahwa Kelompok Tani Melon Mutiara merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina EP Rantau, yang terdiri dari 21 anggota. Proses budidaya melon dilakukan secara mandiri mulai dari penanaman hingga pemasaran. Harga jual melon mencapai Rp20 ribu per kilogram dan diminati oleh masyarakat lokal.
Dengan adanya upaya pengembangan budidaya melon ini, diharapkan dapat memulihkan perekonomian masyarakat Aceh Tamiang pasca bencana banjir serta memberikan contoh positif bagi petani muda di daerah tersebut.
Sumber: Aceh Antara
