Pesta Babi: Cermin Konflik Agraria di Subulussalam
Di tengah aroma kopi dan riuh diskusi di Warung Kopi Mesada, puluhan jurnalis, pegiat lingkungan, tokoh adat, hingga masyarakat sipil duduk menatap layar proyektor. Mereka berkumpul pada Jumat malam, 15 Mei 2026, untuk menyaksikan film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale.
Perspektif Unik dari Film Pesta Babi
Film tersebut bukan sekadar tontonan biasa, terutama bagi mereka yang tinggal di Kota Subulussalam. Pesta Babi menjadi cermin yang memantulkan konflik agraria, kerusakan lingkungan, dan tantangan masa depan hutan yang menjadi pusat kehidupan masyarakat setempat.
Suasana haru dan hening seringkali menyelinap di antara adegan demi adegan yang menggambarkan pertarungan masyarakat adat dengan kepentingan industri perkebunan. Pesan film ini bergema kuat di benak penonton, menyadarkan akan realitas yang tengah dihadapi di Subulussalam.
Peran Perempuan dalam Pelestarian Lingkungan
Hikmah Yani Chaniago, seorang perwakilan perempuan yang turut hadir dalam acara tersebut, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam menjaga lingkungan hidup. Film Pesta Babi memberikan contoh yang inspiratif tentang bagaimana perempuan terlibat dalam perjuangan mempertahankan hak-hak masyarakat dan alam.
Keserupaan dengan Realitas Di Lapangan
Malam itu, diskusi melebar hingga mencakup persoalan perkebunan sawit di Subulussalam yang memicu konflik sosial dan lingkungan. Ketua Komisi A DPRK Kota Subulussalam, Ardhiyanto Ujung, mengungkapkan kesesuaian antara konten film dengan situasi aktual di daerah mereka. Konflik dan tantangan yang dihadapi di layar proyektor terasa begitu dekat.
Dalam wawancara terpisah, Saidiman Sambo, seorang aktivis lingkungan, menegaskan pentingnya upaya kolektif untuk melindungi hutan adat dan lingkungan dari tekanan industri yang terus meningkat.
Malam semakin larut, namun diskusi dan perbincangan mengalir terus, menggambarkan kepedulian dan semangat untuk memperjuangkan keberlanjutan lingkungan dan masa depan Subulussalam yang lebih baik.
