Aceh Tamiang Fokus Pada Rehabilitasi dan Optimalisasi Lahan Pasca Bencana
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan (Distanakbun) terus berupaya memulihkan sawah yang rusak akibat bencana. Hingga saat ini, proyek rehabilitasi dan optimalisasi lahan telah mencapai progres yang signifikan.
Rehabilitasi Sawah dan Optimalisasi Lahan
Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanakbun Aceh Tamiang, Irwan Hadi, sebanyak 702,45 hektare sawah telah direhabilitasi, mencapai lebih dari 90 persen dari target awal 712 hektare. Selain itu, optimalisasi lahan juga terus digenjot dengan luas area yang telah direalisasikan mencapai 1.032,46 hektare dari total target 1.961 hektare.
Pemerintah menargetkan proyek rehabilitasi dan optimalisasi lahan ini selesai pada Juli 2026. Meskipun demikian, kendala pasokan air akibat curah hujan rendah menjadi tantangan utama di lapangan. Irwan juga menyebutkan bahwa keterbatasan alat berat turut memperlambat proses ini.
Mitigasi Masalah
Proyek rehabilitasi ini dilaksanakan di tiga kecamatan, yaitu Manyak Payed, Bendahara, dan Karang Baru, dengan menggunakan mekanisme swakelola tipe 2 melibatkan kerja sama antara Kementerian Pertanian, TNI AD Kodim 0117/Aceh Tamiang, dan Universitas Malikussaleh (Unimal). Berbagai fasilitas seperti pengerukan lumpur, normalisasi saluran, dan pembuatan sumur bor baru turut dilakukan untuk mendukung petani di daerah tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan petani, Distanakbun Aceh Tamiang sedang memproses usulan tambahan rehabilitasi lahan seluas 1.500 hektare dengan alokasi anggaran Rp13,5 juta per hektare. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat petani di wilayah tersebut.
