Menikmati Pesona Lhok Gob di Belantara Pidie Jaya

0
389

Pesona sungai Lhok Gob yang membelah belantara Pidie Jaya di Gampong Kumba, Bandar Dua, sungguh sangat memanjakan mata. Wisata alam yang asri dan menenangkan jiwa.

Meski lahir dan besar di Pidie Jaya, saya baru tahun tentang objek wisata Lhok Gob beberapa tahun belakangan, yakni ketika Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya membentuk tim untuk mendata dan menulis buku Situs Sejarah dan Objek Wisata Kabupaten Pidie Jaya. Tim ini menelusuri berbagai tempat dan objek yang sudah ditentukan. Ada 53 lokasi situs sejarah dan purbakala yang harus dikunjungi. Kemudian ditambah dengan beberapa lokasi objek wisata.

Tim kecil ini terdiri dari Teuku Barzaini sebagai ketua, Muhammad Kasem Syah selaku orang tua dan tokoh masyarakat yang tahu sejarah berbagai situs Pidie Jaya ditunjuk sebagai pemandu lapangan. Sementara saya Iskandar Norman dipercayakan sebagai penulis naskah dan editor buku yang akan kami tulis dari data dan keterangan yang kami himpun di setiap situs.

Tim juga dibekali dengan alat Global Position System (GPS) untuk mencatat titik koordinat setiap situs yang kami kunjungi, urusan pencatatan titik koordinat diserahi kepada Taufit, sementara fotografer dan dokumentasi diserahi kepada Hardiansyah, sementara urusan administrasi dan kebutuhan tim ditangani oleh Surya.

Krueng Lhok Gob merupakan salah satu dari beberapa objek wisata yang masuk dalam list yang harus dikunjungi tim. Letaknya agak ke pedalaman di bagian selatan Kecamatan Bandar Dua (Uleegle). Secara administrasi Lhok Gob masuk dalam kawasan Gampong Kumba.

Wisata Krueng Lhok Gob memang masih jarang dikunjungi oleh wisatawan, selain karena letaknya agak terpencil, juga karena kurangnya publikasi dari pemerintah, serta minimnya fasilitas dan infrastruktur pendukung. Praktis, wisata Krueng Lhok Gob masih sangat asri dan alami. Aliran airnya sangat jernih, susunan batu di tengah sungai dan derasnya aliran air menimbulkan irama alam yang harmoni dalam kesejukan. Riak-riak air yang terbentuk dari ailiran yang mebentur batu menambah eksotimse Krueng Lhok Gob.

Namun bagi masyakat Gampong Kumba dan sekitarnya, Krueng Lhok Gob bukan hanya sebatas objek wisata semata, tapi juga sumber penghidupan. Sudah sejak peradaban muncul di sana, aliran sungai Krueng Lhok Gob mengairi ribuan hektar sawah penduduk. Ia juga menjadi sumber air baku bagi kebutuhan masyarakat setempat.

Ketergantungan masyarakat di kawasan itu terhadap Krueng Lhok Gob sangat terasa, terutama bagi petani. Dari aliran air Krueng Lhok Gob lah padi-padi di sawah mereka bisa menguning, dipanen hingga menghasilkan gabah untuk kebutuhan hidup. Dan, sebagai wujud rasa syukur, hampir setiap tahun di Krueng Lhok Gob diadakan hajatan kenduri besar oleh masyarakat setempat. Mereka menyembelih lembu memaskanya dalam porsi besar, makan bersama sebagai wujud rasa syukur terhadap rahmat Tuhan yang menganugerahi mereka rezeki dari aliran air Krueng Lhok Gob.

Menariknya, lembu yang disembelih untuk bekal lauk kenduri, harus disembelih di tempat yang sama setiap kenduri digelar, yakni di bawah sebatang pohon angsana alias *bak asan.* Kenduri tahunan itu sudah menjadi semacam tradisi turun temurun, yang menambah pesona Lhok Gob sebagai lokasi objek wisata. Biasanya pada saat kenduri besar itulah Lhok Gob ramai dikunjungi penduduk.

Di seberang aliran sungai Lhok Gob juga terdapat sebuah batu besar pipih yang lebar dan datar. Ukurannya sekitar sepuluh kali sepuluh meter. Batu itu sering digunakan penduduk sebagai tempat untuk shalat berjamaah saat kenduri digelar. Batu besar yang datar itu sering disebut sebagai batee tika meuadee yakni batu tikar tempat menjemur atau batu tikat terhampar.

Lhok Gob juga kaya dengan flora dan fauna, di pinggir sungai, di antara rimbunan pepohonan, kita bisa melihat kupu-kupu bertebagan, hinggap di dahan dan bunga-bunga yang mekar di ranting pohon. Di relung-relung sungai juga hidup beragam ikan air tawar, beberapa tempat di sepanjang aliran sungai Krueng Lhok Gob sering dijadikan tempat memancing ikan oleh masyarakat sekitar.

Objek wisata Krueng Lhok Gob yang letaknya sekitar 16 kilometer ke arah selatan dari pasar Uleegle, pusat Kecamatan Bandar Dua, sejak dulu memang sudah memiliki peradaban. Di sana terdapat makan seorang ulama sufi, Teungku Tu Dilhok Gob, pusaranya berada di tengah hutan, sekitar 200 meter dari Krueng Lhok Gob. Sisa-sisa peradaban di Krueng Lhok Gob juga bisa dilihat dari sebuah balai tua peninggalan masa lalu, yang diyakini sebagai balai tempat Teungku Tu Di Lhok Gob menggelar pengajian untuk warga sekitar tempo dulu.

Bagi pecinta wisata alam yang sudah menjelajah Krueng Lhok Gob, dan sudah merasakan sejuk dan segarnya air sungai tersebut dengan beragam pesonanya, pasti akan tertarik untuk kembali lagi ke sana, karena keindahan Lhok Gob merupakan anugerah Tuhan yang tiada tara nilainya.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here