Hutan Leuser yang ada di Kabupaten Gayo Lues menyimpan banyak pesona, selain memiliki kekayaan flora dan fauna, hutan itu juga menyimpan banyak misteri dan panorama yang sangat menakjubkan.

Ada mitos atau pantangan yang berkembang, jangan mencuci periuk ke dasar sungai, bila silakukan maka hari yang sebelumnya terang langsung turun hujan. Rupanya pantangan itu sudah banyak diketahui orang-orang yang sering berburu ataupun mencari hasil alam di Hulu Sungai Palok Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues. Dan misteri itu sudah diketahui secara turun temurun dari moyang endatu dulu. Terkecuali bagi pendaki pemula.

Sabtu 20 April 2019, Amru, Bandi, Anuar, Yusuf dari desa Porang ditambah iparnya Yusup dari Badak Uken mulai berjalan menyisir kebun kopi warga Porang di derah Pungke Jaya, meski hari masih pagi, kelima orang itu sangat bersemangat mendaki gunung terjal menuju Hulu Sungai Palok.

“Di hutan ini tempat orang mencari kayu damar, rotan, ayam hutan, serta hasil alam lainya yang tidak dilindunggi, jadi kita bebas menangkapnya untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Amru setelah berjalan selama satu jam menaiki gunung.

Di pinggir hulu sungai Palok, kelima orang itupun langsung berbagi tugas yang telah disepakati, ada yang menembak burung punai, ada yang memasang jerat ayam hutan, hingga ada yang mencari rotan.

“Dulu saat rotan laku dijual, semua gunung ini sudah kami lintasi, dan banyak rupiah yang kami dapatkan dari hasil penjualan rotan itu. Tapi sekarang tidak pernah lagi, kami disibukan dengan menanam dan menanam kopi Gayo di pinggir jalan tadi,” tambah Yusuf.

Rupanya, kebanyakan pencari rotan dulu memilih untuk berkebun kopi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan keluar masuk hutan bukanlah pilihan untuk mensejahtrakan keluarga, dan ketika berkumpul dengan pencari rotan, barulah dibuat jadwal masuk hutan untuk berburu atau mengambil hasil alam yang dibutuhkan.

“Alhamdulilah hari ini ada rezeki kita, ada burung punai dan ayam hutan juga, jadi kita masak di pinggir hulu sungai Palok ini saja. Silahkan kalau mau disayur ataupun dipanggang, ini merupakan rahmat dari Allah SWT, jadi tidak boleh takabur di tengah hutan,” katanya setelah sebagian menembak burung punai dan pulang melihat perangkap ayam hutan.

Kelima orang itupun langsung memasak untuk makan siang di hulu sungai Palok. Ada yang mencari kayu bakar, ada yang membersihkan burung dan ayam, hingga ada yang mencari daun pisang pengganti piring saat makan nantinya.

Perburuan burung punai dan ayampun kembali dilanjutkan usai makan siang, setiap hasil yang didapat akan dibagi rata untuk dibawa pulang untuk keluarga, dan perburuanpun berakhir pukul 17:00 Wib karena hari sudah senja di tengah hutan belantara.

“Kesereuan seperti ini tidak bisa dibeli, dan kita harus mengulanggi lagi perburuan ini, saya suka tantangan menaiki gunung seperti ini,” ucap Bandi saat berjalan pulang. [Win Porang]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here