Banjir Aceh 2025: Manuskrip Terdampak dan Model Konservasi
Saat banjir melanda Aceh pada akhir 2025, sedikitnya 520 manuskrip di sembilan kabupaten/kota terdampak bencana tersebut. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry untuk menyelamatkan warisan budaya Aceh.
Pengembangan Model Konservasi Manuskrip
BRIN dan UIN Ar-Raniry bekerja sama dalam pengembangan model konservasi untuk manuskrip yang terdampak banjir. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, seperti Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.
Observasi dan uji coba riset dilakukan di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada 25-31 Agustus 2026. Model konservasi yang dikembangkan tidak hanya fokus pada penyelamatan fisik manuskrip, tetapi juga pengembangan manajemen risiko bencana untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman bencana hidrometeorologi.
Ketua tim riset dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Husnul Fahimah Ilyas, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konservasi manuskrip terdampak banjir dengan metode pengeringan manual knockdown. Model ini dirancang untuk dapat diterapkan di wilayah rawan bencana secara efisien.
Solusi Taktis untuk Penyelamatan Manuskrip
Salah satu solusi taktis yang dikembangkan adalah penggunaan ruang pengering portabel atau chamber portabel. Hal ini diungkapkan oleh konservator Perpustakaan Nasional, Aris Riyadi. Chamber portabel ini dapat mempercepat proses penyelamatan manuskrip yang terdampak banjir dengan lebih efisien.
Aris menjelaskan bahwa langkah penyelamatan manuskrip terdampak banjir melalui proses identifikasi kerusakan, pengeringan, dan restorasi menjadi kunci dalam pemulihan warisan dokumenter tersebut. Tim riset berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh dalam upaya penyelamatan dan pelestarian manuskrip.
Hasil riset yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi panduan dalam penanganan manuskrip terdampak bencana serupa di Aceh maupun di tempat lain. Kolaborasi antara BRIN, UIN Ar-Raniry, dan berbagai pihak terkait menjadi modal utama dalam upaya pelestarian warisan budaya melalui manuskrip.
