Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh melaporkan bahwa fenomena pergerakan atau longsoran tanah di Kampung (Desa) Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah terus membesar, melebihi 30.000 meter persegi (m²). Menurut Kabid Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, luasannya telah bertambah dari 20.199 m² pada tahun 2021. Longsoran ini telah bergerak secara bertahap sejak tahun 2004 setelah awalnya berbentuk lubang kecil sejak awal tahun 2000.
Dari laporan BPBD Aceh Tengah, longsoran ini pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada 2006. Bahkan, masyarakat di Kampung Bah Serempah telah direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada 2013-2014. Dalam upaya penanganan, Dinas ESDM Aceh telah melakukan beberapa tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa pergerakan tanah disebabkan oleh material yang tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong yang mudah menyerap air. Rembesan atau aliran air bawah tanah juga menjadi faktor yang menggerus tanah. Lereng curam dan kondisi cuaca seperti hujan dan gempa bumi turut menambah ketidakstabilan lereng.
Untuk mengatasi risiko ini, Dinas ESDM Aceh mendorong sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya longsor dan larangan mendekati area longsoran, terutama saat musim hujan. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga diharapkan dapat merelokasi jalan ke area yang lebih aman serta memindahkan drainase yang membebani tanah di lokasi longsoran. Perkuat mitigasi non-struktural seperti edukasi dan sosialisasi juga dianggap penting.
Selain itu, kajian geologi teknik harus dilakukan sebelum pembangunan infrastruktur di area tersebut. Pemantauan perkembangan longsoran secara berkala juga ditekankan untuk mengantisipasi risiko kemungkinan retakan baru. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan risiko longsoran tanah di daerah tersebut dapat diminimalisir.
