Berdasarkan saran dari ahli geologi Universitas Syiah Kuala, Bambang Setiawan, penanganan longsoran tanah di Desa Bah, Aceh Tengah dapat dilakukan dengan mengalihkan aliran air di wilayah pergerakan tanah. Pengalihan aliran air ini harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan. Fenomena longsoran tanah di Ketol, Aceh Tengah telah menimbulkan kehebohan di Aceh dalam beberapa bulan terakhir. Lubang raksasa yang terbentuk di sana mulai berkembang sejak awal tahun 2000-an. Tim Geologi Dinas ESDM Aceh mencatat bahwa lubang tersebut kini mencapai lebih dari 30 ribu meter persegi, mengalami peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir.
Menurut Bambang, fenomena alam ini masih merupakan misteri dan perlu dilakukan penelitian geologi lebih lanjut. Sinkhole merupakan salah satu kemungkinan terbentuknya lubang raksasa tersebut. Sinkhole sendiri dihasilkan dari pelarutan batu gamping selama periode geologis, yang menyebabkan cekungan di bawah permukaan tanah. Hasil penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menjelaskan mekanisme terbentuknya lubang tersebut.
Data citra satelit menunjukkan potensi perluasan lubang raksasa ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten. Solusi jangka pendek seperti pengalihan aliran air dan pemasangan rambu jalan perlu segera dilakukan, sementara untuk penanganan jangka panjang, perlunya kajian geologi mendalam. Mitigasi teknis yang akan dilakukan harus mengacu pada hasil penelitian tersebut. Kesimpulan sementara Dinas ESDM Aceh menyebutkan bahwa penyebab pergerakan tanah di wilayah tersebut adalah material yang tersusun di atas tufa vulkanik yang bersifat lepas, sehingga mudah menyerap air dan jenuh. Rembesan atau aliran air bawah tanah juga menjadi faktor penyebab. Lereng curam yang tidak stabil dapat menjadi risiko tambahan, terutama saat terjadi hujan atau gempa bumi.
