Anak Muda Harus Cepat Berinvestasi, Apa Pilihan Terbaik?
Investasi bukan lagi hal yang bisa ditunda. Generasi muda harus segera memulai investasi sejak dini untuk mengoptimalkan waktu sebagai aset berharga yang tidak bisa dibeli ulang. Namun, antara kripto dan saham, mana yang lebih cocok bagi mereka?
Kripto: Modal Kecil, Transaksi 24 Jam
Kripto menjadi pilihan favorit generasi muda dengan modal kecil dan aksesibilitas transaksi 24 jam penuh. Survei menunjukkan bahwa 60% dari investor kripto berusia 18-34 tahun tertarik pada kripto karena transaksinya yang aktif sepanjang minggu. Dengan modal masuk minimal Rp11 ribu, kripto menawarkan potensi cuan yang menggiurkan.
Misalnya, Bitcoin yang nilai awalnya hanya Rp73 pada tahun 2010, kini telah mencapai Rp1,1 miliar per koin. Regulasi OJK sejak 2025 membuat investasi kripto semakin menarik dengan fakta bahwa pembelian kripto bebas PPN namun kena PPN saat penjualan. Jumlah transaksi kripto nasional juga terus meningkat, mencapai Rp480 triliun tahun lalu dengan adanya tren tokenisasi properti.
Saham: Rekam Jejak dan Kepemilikan Bisnis
Dari sisi saham, ini adalah bukti nyata kepemilikan bisnis dengan rekam jejak historis yang terbukti. Sebagai contoh, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 2000 dengan harga Rp1.400, telah mencatat capital gain hingga 3.989% setelah mengalami stock split. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menunjukkan kinerja yang mengesankan dengan capital gain sebesar 296% sejak IPO 2023.
Saham menawarkan kepemilikan bisnis yang transparan dan tidak seperti judi online yang dirancang untuk menguntungkan operator. Masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa secara umum sudah terbiasa berinvestasi sejak usia 20-an dengan konsep compounding dan dollar cost averaging, sementara di Indonesia, orientasi masih cenderung jangka pendek.
Inflasi dan Literasi Keuangan
Inflasi adalah masalah yang harus diwaspadai bagi generasi muda yang masih menyimpan dana kas. Menabung dengan nilai yang sama dari tahun ke tahun dapat membuat nilai aset tergerus oleh inflasi. Oleh karena itu, mulailah beralih dari budaya menabung ke budaya berinvestasi untuk menghadapi tantangan inflasi.
Literasi keuangan juga sangat penting sebagai fondasi bagi kesejahteraan finansial. Data dari OJK mencatat bahwa indeks literasi keuangan Indonesia masih di bawah 50%, meskipun telah meningkat secara signifikan dari tahun sebelumnya.
