Puncak Bencana Aceh yang terjadi hampir setengah tahun yang lalu masih menyisakan banyak kisah kemanusiaan yang tidak begitu banyak diketahui oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah kisah heroik Aipda Maulizar, seorang anggota kepolisian yang berada di tengah-tengah bencana tersebut. Pada tanggal 25 November 2025, saat Aceh diguyur hujan lebat dan banjir melanda, Maulizar mendapat panggilan telepon dari warga desa yang meminta pertolongan evakuasi.
Keputusan Maulizar untuk menyelamatkan nyawa warga yang terjebak di atap rumah akibat banjir itu sangat berani. Meskipun kendaraannya melawan arus banjir dan mogok di Desa Gle Dagang, ia berhasil meloloskan diri dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan koordinasi tim BNPB dan SAR. Meskipun tidak mudah di tengah kondisi darurat dan akses yang terbatas, Maulizar terus berusaha untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak banjir.
Dengan semangat dan keberanian yang luar biasa, Maulizar akhirnya berhasil mengevakuasi sekitar 200 orang warga di Desa Blang Reuling. Dengan bantuan perahu karet LCR, Maulizar dan tim BPBD berhasil menyelamatkan mereka yang terjebak di atap rumah dan memastikan keselamatan mereka. Upaya evakuasi terus dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan perlengkapan terbatas hingga akhirnya guru dan santri yang terjebak di mushala pesantren juga berhasil diselamatkan.
Kisah heroik Maulizar selama malam sampai pagi hari itu adalah contoh nyata dari keberanian dan kepemimpinan di tengah bencana. Upaya penyelamatan yang dilakukannya, terutama kepada anak-anak dan lansia, telah membuktikan bahwa keberanian dan semangat untuk menolong adalah kunci dalam menghadapi situasi sulit. Aipda Maulizar adalah salah satu pahlawan yang patut dihargai dalam tragedi bencana Aceh tersebut pada tahun yang lalu.
