Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang melaksanakan proyek rekonstruksi untuk membangun kembali 60 unit hunian sementara (huntara) di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang terdampak bencana banjir dan longsor. Huntara ini dibangun dengan menggunakan sistem modular rangka baja ringan, memungkinkan konstruksi berlangsung cepat tanpa mengorbankan kualitas. Proyek huntara tersebut ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU bekerja sama dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Melalui tahapan awal seperti pembersihan dan persiapan struktur bangunan, huntara yang terdiri dari lima blok beserta fasilitas utilitas dengan luas total 1.440 meter persegi tengah dalam proses pembangunan. Selain itu, survei lokasi tambahan sedang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan huntara lainnya di sekitar kawasan tersebut. Tujuan proyek ini adalah untuk memastikan warga terdampak segera mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak untuk dihuni.
Selain unit-unit hunian, kawasan huntara juga dilengkapi dengan fasilitas seperti toilet komunal, dapur bersama, area cuci, jaringan listrik, pencahayaan, sistem air bersih, dan sanitasi. Semua fasilitas ini disiapkan untuk memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di huntara dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan layak. Proyek ini juga dilakukan dengan tujuan untuk memastikan proses pemulihan kehidupan warga terdampak dapat berjalan lebih cepat dan terarah.
Selain proyek huntara di Langkahan, terdapat juga proyek serupa yang dilaksanakan oleh Rumah Zakat, Bulak Sumur Peduli, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tangguh Research Group on Resilient Architecture di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu 100 keluarga korban banjir di Pidie Jaya agar dapat tinggal di hunian sementara yang aman dan layak.
