BANDA ACEH – Pemerintah Aceh bersama segenap elemen di Aceh harus mampu mengembalikan marwah Darussalam sebagai pusat peradaban. Aceh harus kembali dibangun dengan tamadun, sebagaimana telah diperlihatkan oleh orang-orang tua Aceh masa dahulu.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI asal Aceh, H Firmandez saat menghadiri silaturrahmi akbar civitas akademik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Kamis, 13 April 2017 di halaman Masjid Jamik Unsyiah.

Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh ini menjelaskan, banyak romansa dan spirit masa lalu yang telah menjadikan Aceh seperti sekarang. Malah menurutnya, dulu di Komplek Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam bukan hanya ada 2 perguruan tinggi, Unsyiah dan IAIN Ar Raniry –kini UIN Ar Raniry. Tapi ada juga Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) dan Lembaga Pendidikan Dayah Teungku Syik Pante Kulu.

“Namun dalam perjalanannya, APDN ditutup dan Dayah Pante Kulu tidak jelas bagaimana perkembangannya, sehingga yang tersisa hanya Unsyiah dan IAIN Ar Raniry yang dikenal sebagai dwi tunggal jantong hate rakyat Aceh,” ungkap H Firmandez.

Dibangunnya empat lembaga pendidikan tinggi dalam satu komplek Kopelma Darussalam tersebut, menurut H Firmandez merupakan bukti bahwa orang-orang tua Aceh masa dulu ingin membangun pendidikan di Aceh secara komprehensif, agar melahirkan generasi-genarasi handal untuk mengisi pembangunan.

“Sejak jantong hate rakyat Aceh ini didirikan September 1959 lalu, hingga sekarang, sudah lebih 280 ribu alumni dihasilkan, sebagian dari mereka merupakan orang-orang tua kita yang menjadi pejabat, baik sebagai gubernur, bupati/walikota, pengusaha, dan lain sebagainya. Kopelma Darussalam betul-betul telah menjadi pusat peradaban Aceh yang melahirkan intelektual dan cendikiawan yang memberi warna dalam pembangunan Aceh,” lanjut H Firmandez.

H Firmandez melanjutkan, para tokoh Aceh masa lalu sangat gigih membangun Kopelma Darussalam untuk diwariskan kepada generasi Aceh sepanjang zaman. Mereka antara lain adalah Gubernur Ali Hasymi selaku Ketua Yayasan Pembina Darussalam, Wakil Gubernur Aceh Marzuki Nyakman, dilanjutkan Gubernur Muzakir Walad, Ketua DPRD-GR Aceh Muhammad Jasin, dan Panglima Daerah Angkatan Kepolisian I/Aceh Kombes Pol Hadji Soehadi, serta Penguasa Perang Daerah (Peperda) Aceh yang dipimpin Letnan Kolonel Syamaun Gaharu dan Mayor T Hamzah.

“Ini membuktikan bahwa para pejabat di Aceh dulu sangat kompak membangun Aceh. dalam kondisi peperangan pun bisa membangun, mereka tidak terjebak pada ego sektoral, tapi bahu membahu bersama-sama mewujudkan Kopelma Darussalam sebagai pusat peradaban Aceh. Karena itu saya mengajak agar mari semua pihak merapatkan kembali barisan, antara pemerintah dan kalangan kampus jangan ada sekat-sekat lagi. Contoh apa yang telah dilakukan oleh pendahulu kita,” ajak H Firmandez.

Selain itu, Wakil Sekjen DPP Golkar Bidang Maritim ini melanjutkan, semua pihak pada masa dulu sangat mencintai Kopelma Darussalam. Mereka membangun dengan dasar pada kekuatan rakyat dan untuk rakyat.

“Bahkan Ali Hasymi dalam biografinya mengaku hanya dua kali menangis, pertama saat salah seorang anaknya meninggal, yang kedua ketika pembangunan Kopelma Darussalam terhenti akhibat peristiwa (perang) Aceh. Ini menunjukkan betapa besar kecintaannya kepada Kopelma Darussalam,” lanjut H Firmandez.

Masih menurut H Firmandez, Gubernur Aceh waktu itu Ali Hasymi berusaha keras dan bercita-cita untuk membangun Aceh kembali seperti pada zaman jayanya, karena itu, sejak terbentuknya provinsi Aceh pada awal tahun 1957, pemerintah daerah yang dipimpin Ali Hasymi dan penguasa perang daerah yang dipimpin Letnan Kolonel Syamaun Gaharu dan Mayor T Hamzah bersama-sama para pemimpin dan tokoh Aceh lainnya, bersama-sama meletakkan dasar-dasar pembangunan Kopelma Darussalam.

“Mereka telah banyak mengalami suka duka dalam membangun Aceh. Jadikan mereka sebagai suri tauladan dalam membangun Aceh. Sekali lagi saya mengajak, antara pemerintah dengan kalangan kampus mari bersatu padu, jangan tercerai berai hanya karena kepentingan individu yang kecil, tapi bersatulah untuk Aceh yang lebih besar,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here