Industri hiburan saat ini dihebohkan dengan kemunculan generator video berbasis kecerdasan buatan, Seedance 2.0, yang telah menimbulkan kontroversi di Hollywood karena dituduh melakukan pelanggaran hak cipta. ByteDance, perusahaan di balik aplikasi TikTok, merilis Seedance 2.0 pada Februari 2026 untuk pengguna aplikasi Jianying di China, dengan rencana ekspansi global ke CapCut. Meskipun teknologi ini menghasilkan video realistis hanya dari perintah teks singkat, banyak konten yang dihasilkannya menggunakan karakter dan adegan berhak cipta tanpa izin, menggugat kreativitas dan hak milik intelektual.
Kontroversi mencapai puncaknya ketika video viral menampilkan Tom Cruise dan Brad Pitt bertarung, memicu reaksi keras dari para kreator Hollywood. Rhett Reese, penulis skenario Deadpool, mengecam Seedance 2.0 sebagai ancaman bagi para kreator manusia, karena platform tersebut diduga menggunakan konten “bajakan” untuk melatih kecerdasan buatannya. Studio besar di Hollywood merasa terancam dengan praktik Seedance 2.0 yang mengabaikan hak cipta, dan kini industri perfilman global menghadapi tantangan baru yang berasal dari perintah teks digital. Diperlukan langkah-langkah tegas untuk mengatasi pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh teknologi baru ini sebelum hal ini memengaruhi keberlanjutan dan kreativitas industri hiburan secara keseluruhan.
