BANDA ACEH – Beberapa ruas jalan nasional di Aceh, khususnya bagian Tengah, mulai dari Bireuen ke Takengon tembus ke Blangkejeren, Kutacane, hingga ke perbatasan Nagan Raya, ada yang masih di bawah standar nasional. Pemerintah diminta untuk melakukan rekonstruksi dan peningkatan,

Permintaan itu disampaikan anggota Komisi V DPR RI yang membidangi urusan infrastruktur dan perhubungan, H Firmandez, Rabu, 13 September 2017. Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 ini merincikan, beberapa ruas jalan di kawasan tengah Aceh yang harus ditingkatkan tersebut adalah rekonstruksi jalan Bireuen – Tekengon sepanjang 103 kilometer, pembangunan jalan Pameu – Genting Gerbang sepanjang 93 kilometer, rekonstruksi jalan Genting Gerbang – Simpang Uning menuju arah Kutacane, Aceh Tenggara sepanjang 69,8 kilometer, dan rekonstruksi jalan Genting Gerbang – Celala ke perbatasan Abdya yakni jalan menuju Jeuram sepanjang 20 kilometer.

“Dari 103 kilometer jalan lintas Bireuen – Takengon, masih ada sekitar 31,7 kilometer yang belum memenuhi standar nasional, karena lebarnya masih 4,5 meter. Begitu juga ruas jalan Pameu – Genting Gerbang menuju Geumpang, ruas jalan Genting Gebang – Celala ke perbaatsan Abdya,serta ruas jalan Genting Gerbang – Simpang Uning arah ke Kutacane, Aceh Tenggara lebarnya masih 4,5 meter,” jelas Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR RI tersebut.

H Firmandez menekankan, pembangunan ruas-ruas jalan tersebut sangat penting untuk membuka keterisolasian kawasan Aceh pedalaman, infrastuktur jalan yang memenuhi standar nasional merupakan urat nadi bagi pembangunan daerah dataran tinggi tersebut.

“Selama ini pembangunan jalan di kawasan itu hanya tambal sulam. Cara-cara seperti itu harus ditinggalkan, jangan setiap tahun selalu tambal sulam, tapi harus dibangun dengan baik dan memenuhi standar nasional,” harapnya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Golkar Bidang Maritim ini menambahkan, berdasarkan letak geografis dan tofografi daerah, kawasan tengah Aceh merupakan daerah dengan curah hujan tinggi, sehingga setiap tahun selalu terjadi longsoran di beberapa ruas jalan.

Karena itu, H Firmandez berharap pembangunan jalan di kawasan itu juga harus disertasi dengan pembangunan drainase dan penahan tebing di sisi jalan rawan longsor. Dengan bagusnya infrasruktur jalan di dataran tinggi tersebut, maka mobilitas barang dan jasa akan lebih lancar, yang tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ini juga bagian dari mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe. Bila infrastuktur jalan dari Jeuram, Kutacane, Blankejeren, Takengon, Redelong, hingga ke Krueng Geukueh di pesisir Aceh Utara lancar, maka berbagai komoditas dari daearh-daerah tersebut bisa masuk ke KEK. Kita harus berpikir jangka panjang, jangan lagi tambal sulam,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here