Operator militer Israel sedang menjalankan misi pengintaian siber sebagai bagian dari upaya untuk melumpuhkan sistem pertahanan dan ekonomi Iran pada tahun 2026. Dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, teknik siber menjadi senjata yang krusial. Rudal bukanlah satu-satunya alat yang menentukan akhir sebuah rezim; sekarang, kekuatan sebenarnya ada di balik komputer. Operasi siber telah menjadi pusat strategi utama yang mempengaruhi setiap aspek peperangan di antara ketiga pihak tersebut.
Shay Nahum, CEO CYGHT dan penerima Penghargaan Pertahanan Israel, menjelaskan bahwa perang siber tidak sekadar berjalan secara paralel dengan bidang militer lainnya, tetapi telah menjadi lapisan inti yang mengatur keputusan strategis dan operasional. Informasi dari dunia siber kini menjadi fundamental dalam menentukan intelijen, target sasaran, dan pelaksanaan operasi militer secara efektif.
Dalam situasi perang global saat ini, sistem siber memberikan data real-time yang penting dalam mengarahkan platform fisik militer ke titik sasaran yang tepat. Operasi siber seperti Roaring Lion dan Epic Fury dalam konflik 2026 menunjukkan betapa pentingnya teknologi siber sebagai “bahan bakar” bagi keberhasilan militer. Dengan kemampuan hacking dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai senjata utamanya, dunia siber telah menjadi penentu utama dalam peperangan modern ini.
