TAPAKTUAN – Forum Komunikasi Keuchik se-Kecamatan Kluet Tengah mendesak Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra segera mencopot Camat Kluet Tengah, Muktar Yatim dari jabatannya.

Desakan itu disampaikan melalui surat yang disampaikan kepada Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra di Tapaktuan, Senin, 15 Mei 2017. Surat tersebut ditandatangani Kepala Mukim Menggamat Bintara Yakub dan Kepala Mukim Telago Batu Husin, bersama 13 keuchik dan perwakilan keuchik di Kluet Tengah.

Ketua Forum Komunikasi Keuchik Kecamatan Kluet Tengah, Arifni menjelaskan, surat itu dikirim ke bupati setelah imum mukim dan para keuchik di Kluet Tengah bermusyawarah.

“Musyawarah juga diikuti ikatan pemudan dan mahasiswa Kluet Tengah, serta beberapa tokoh masyarakat. Hasilnya diputuskan untuk mneyurati Bupati HT Sama Indra agar menganti atau memindahkan Camat Kluet Tengah Muktar Yatim,” jelas Arifni dalam surat tersebut.

Alasannya, sebagai Camat Muktar Ytaim dinilai telah melakukan beberapa kesalahan, seperti tidak adanya sinkronisasi kerja antara para keuchik se-Kecamatan Kluet Tengah dengan camat. Selain itu juga diduga telah melakukan pungutan liar (pungli) terhadap para keuchik terkait pengelolaan dana desa, serta ditengarai berselingkuh dengan salah seorang stafnya dikantor camat.

“Muktar Yatim selaku camat Kluet Tengah juga dinilai tidak mampu menunjukkan sikap seorang sosok pemimpin karena tidak adanya sikap kesopanan terhadap masyarakat Kluet Tengah serta juga tidak berdomisili di dalam wilayah Kluet Tengah,” ungkapnya.

Forum Keuchik Kluet Tengah juga mendesak Bupati Aceh Selatan agar mengevaluasi kembali dan bahkan segera membatalkan terkait keputusan Camat Kluet Tengah yang telah memutasi sebanyak 5 orang sekretaris gampong baru-baru ini karena keputusan itu dinilai tanpa dasar dan alasan yang jelas.

Sementara itu, Camat Kluet Tengah, Aceh Selatan, Muktar Yatim, membantah tudingan yang menyebutkan dirinya telah melakukan aksi pungutan liar (pungli) dan dugaan perselingkuhan dengan salah seorang oknum staf kantor camat setempat.

“Tuduhan itu sama sekali tidak benar dan saya anggap merupakan fitnah yang sangat keji,” kata Muktar Yatim ketika dikonfirmasi wartawan via telepon seluler dari Tapaktuan, Senin malam, 15 Mei 2017.

Muktar Yatim mengaku tidak pernah melakukan aksi pungli terhadap para keuchik dalam penggunaan dana desa. Hanya saja, Muktar Yatim mengakui bahwa beberapa waktu lalu ada menerima penyerahan uang dari sebanyak tujuh gampong sebesar Rp 750.000 pergampong.

“Tapi uang itu bukan untuk saya sendiri melainkan sudah ada pos-pos penyalurannya tersendiri. Bahkan menurut informasi saya peroleh pengutipan dana sebesar itu merupakan bagian dari warisan peninggalan masa pemerintahan sebelumnya. Atas dasar inilah saya tidak dapat menerima jika dituding telah melakukan pungli,” tegas Muktar Yatim

Demikian juga terkait tuduhan telah melakukan perselingkuhan. Menurutnya, isu yang menuduh dirinya telah berselingkuh itu bermula disaat terjadi bencana longsor yang menimbun badan jalan menuju Gampong Si Urai-urai dan Koto Indarung sekaligus bencana erosi sungai Krueng Kluet yang mengakibatkan beberapa rumah di dua gampong dimaksud terpaksa dibongkar.

Muktar Yatim menyebutkan, pasca terjadi musibah bencana alam itu pihak Dinas Sosial Pemkab Aceh Selatan mengantarkan bantuan masa panik yang mengharuskan dirinya terlibat langsung mengantarkan bantuan itu ke lokasi bencana.

Namun karena untuk menuju ke lokasi tidak bisa menggunakan mobil karena badan jalan sudah tertimbun longsor, dirinya terpaksa mengendarai sepeda motor milik stafnya sembari memboncengi perempuan tersebut.

“Staf saya itu bukan orang lain sebab masih ada hubungan saudara dengan saya dan dia itu adik saya. Saat kami kembali dari lokasi bencana pun jam masih sekitar pukul 16.00 WIB sore. Bahkan saat itu saya berpakaian dinas lengkap demikian juga perempuan staf saya itu. Demi Allah SWT kami tidak selingkuh, boleh dibuktikan. Jadi tuduhan itu merupakan fitnah sangat keji,” tegas Muktar Yatim.

Muktar Yatim menduga maraknya fitnah yang sengaja ditaburkan oleh oknum tertentu sejak beberapa pekan terakhir karena ada pihak tertentu yang kurang senang pasca dirinya mengambil kebijakan memutasikan sebanyak lima orang sekretaris gampong.

“Jadi termasuk tuduhan yang menyebutkan bahwa saya tidak mampu membangun hubungan kerja yang harmonis dengan para keuchik. Padahal selama ini sangat harmonis, hanya saja pasca saya ambil kebijakan mutasi sekretaris gampong itu menjadi renggang hubungan karena adanya kesalahfahaman atau miskomunikasi,” ujarnya.

Padahal, lanjut Muktar Yatim, dasar dirinya mengambil kebijakan tersebut murni supaya adanya penyegaran di internal sekretaris gampong termasuk supaya adanya penambahan ilmu-ilmu baru. Salah satu contoh kasus, kata dia, terkait adanya beberapa orang sekretaris gampong yang sudah memiliki ijazah S1 namun tidak bisa melakukan penyesuaian ijazah jika posisinya belum digeser ke Kantor Camat.

“Sebelum saya mengambil kebijakan ini, jauh-jauh hari sudah berkoordinasi dengan Bupati Aceh Selatan. Jawaban yang saya terima dari bupati bahwa keputusan itu tidak ada masalah, beliau mempersilahkannya karena hal itu bagian dari upaya penyegaran organisasi, bukan mutasi karena posisi penempatannya tetap di dalam Kecamatan Kluet Tengah juga,” tandasnya.[HM]

Previous articleBPJS Dinilai Bersikap Diskriminatif Terhadap Jurnalis
Next articleIOX Promosikan Wisata Alam Aceh Melalui Offroad
Redaksi Teropong Aceh. Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here