Dinas Sosial Aceh mengantar Nabila Azahra, anak perempuan berusia 11 tahun asal Medan, Sumatera Utara, ke Dinas Sosial Sumatera Utara setelah ditemukan di Banda Aceh. Nabila sebelumnya dilaporkan hilang dan pencarian keberadaannya dilakukan melalui media sosial.
Sekretaris Dinas Sosial Aceh Michael Octaviano mengatakan Nabila ditemukan pada Rabu, 16 September 2026. Sehari setelah ditemukan, atau Kamis, 17 September 2026, petugas Aceh mengantarnya langsung ke instansi sosial di daerah asalnya.
Ditemukan di Banda Aceh
Michael menjelaskan, Dinas Sosial Aceh terlebih dahulu memastikan Nabila memperoleh penanganan setelah ditemukan. Petugas kemudian berkoordinasi dengan instansi terkait di Sumatera Utara untuk memastikan proses perlindungan anak dapat dilanjutkan oleh pihak yang berwenang di daerah asalnya.
“Atas arahan kepala Dinas Sosial Aceh, kami kemudian mengantar langsung Nabila ke Dinas Sosial Sumatera Utara pada Kamis, 17 September 2026,” kata Michael di Banda Aceh, Jumat.
Menurut dia, penanganan tersebut merupakan bagian dari langkah cepat Dinas Sosial Aceh dalam menangani anak-anak yang membutuhkan perlindungan, terutama ketika mereka ditemukan di luar daerah asal.
Ia menyebut upaya itu juga menjadi bagian dari kolaborasi antarinstansi untuk melindungi anak-anak Indonesia, termasuk anak-anak yang dilindungi negara. Setelah seorang anak ditemukan, pemerintah dinilai perlu memastikan keberadaan, keselamatan, dan penanganan lanjutan hingga anak tersebut dapat ditangani instansi yang berwenang.
Perlindungan lintas daerah
Michael menegaskan, proses perlindungan anak tidak seharusnya terhenti karena perbedaan wilayah administrasi. Karena itu, koordinasi antardaerah dibutuhkan sejak anak ditemukan hingga penanganannya diteruskan kepada instansi sosial di daerah asal.
“Penanganan Nabila merupakan bagian dari langkah cepat Dinas Sosial Aceh dalam menangani anak-anak yang membutuhkan perlindungan, khususnya ketika ditemukan di luar daerah asalnya,” ujarnya.
Dinas Sosial Aceh berharap kerja sama antarinstansi dan antardaerah dalam perlindungan anak terus diperkuat. Koordinasi tersebut dinilai penting agar anak yang ditemukan dalam kondisi membutuhkan perlindungan segera mendapat penanganan dan tidak kembali berada dalam situasi rentan.
“Harapannya ke depan tidak ada lagi anak-anak seperti Nabila,” kata Michael.
