Saturday, September 5, 2026

Digitalisasi Manuskrip Al-Qur’an Usia 180 Tahun dari Ulama Aceh

Share

Manuskrip Al-Qur’an Peninggalan Ulama Aceh Didigitalisasi: Mempelajari dan Mewariskan Pengetahuan Islam

Manuskrip Al-Qur’an tulisan tangan yang diyakini berusia sekitar 180 tahun dari Aceh sedang didigitalisasi untuk menjaga pengetahuan Islam yang terkandung di dalamnya. Manuskrip ini merupakan peninggalan Teungku Chik Lampaloh, seorang ulama Aceh terkenal bernama Syekh Abdurrahman Lampaloh. Selain teks Al-Qur’an, manuskrip tersebut juga berisi berbagai catatan yang mencatat pengetahuan dan tradisi keilmuan Islam pada zamannya.

Upaya Digitalisasi untuk Mempertahankan Warisan Keilmuan

Inisiatif digitalisasi manuskrip ini merupakan bagian dari penelitian Nurrahmi, seorang mahasiswa Program Doktor Studi Islam di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Penelitian yang berjudul “From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript” telah dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Selangor, Malaysia.

Menurut Nurrahmi, kondisi fisik manuskrip yang semakin membayakan menjadi alasan utama dilakukannya digitalisasi. Beberapa halaman telah mulai rapuh dan sebagian tulisannya menghilang, membuatnya sulit untuk dibaca. Proses digitalisasi tidak hanya bertujuan mengubah manuskrip menjadi format digital, tetapi juga untuk memastikan bahwa pengetahuan di dalamnya tetap dapat diakses, dipelajari, dan diwariskan ke generasi mendatang.

Tahapan Digitalisasi Manuskrip

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan terbagi dalam tiga tahap utama, yaitu pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi. Tahapan ini mencakup pemilihan manuskrip, verifikasi hak cipta, pengambilan gambar, pembuatan file digital, hingga dokumentasi hasil digitalisasi. Diharapkan bahwa proses ini dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada manuskrip dan menjaga informasi di dalamnya agar tetap vital dalam jangka panjang.

Hasil penelitian ini menawarkan kerangka kerja yang holistik dalam pelestarian, manajemen metadata, dan pembagian pengetahuan. Hal ini diharapkan akan dapat diterapkan oleh lembaga penelitian, perpustakaan, dan museum untuk menjaga warisan budaya dan keilmuan.

Manuskrip Teungku Chik Lampaloh, selain menjadi objek penelitian Nurrahmi, juga telah diteliti oleh tim UIN Ar-Raniry dan Al-Azhar University. Dalam konferensi I-LISS 2026, Nurrahmi mempresentasikan kondisi dan isi manuskrip melalui video, disertai dengan penjelasan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pelestarian dan penyebaran informasi manuskrip tersebut.

Source link

Berita Lainnya

Berita Terbaru