Petugas dari Puskesmas Kebayoran Baru melakukan fogging penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada pemukiman warga di Jakarta, Senin (13/4). Selama periode Januari hingga Maret 2015 Pemprov DKI Jakarta mencatat sebanyak 1042 orang terserang DBD dan lima diantaranya meninggal dunia. ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna/Rei/pd/15.

TAPAKTUAN – Sejumlah 81 orang sudah terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Aceh Selatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat dinilai lamban melakukan pencegahan.

Sekretaris Rumah Sakit Umum Daerah Yulidin Away (RSUD YA) Tapaktuan, Muzhar menyebutkan, berdasarkan hasil rekapitulasi data yang dilakukan pihaknya sejak tiga bulan terakhir, pada bulan September jumlah warga yang terjangkit DBD berjumlah sebanyak 14 orang. Kemudian pada bulan Oktober jumlahnya terus meningkat menjadi 25 orang serta pada bulan November naik menjadi 47 orang.

“Sebanyak 81 orang warga yang terjangkit DBD sejak tiga bulan terakhir tersebut merupakan pasien yang dirujuk dari Puskesmas masing-masing kecamatan. Usia pasien tersebut mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Setelah mendapat perawatan intensif pasien diizinkan pulang. Namun ada sebagian yang harus dirujuk ke Banda Aceh karena trombositnya sudah sangat rendah,” jelas Muzhar, Rabu 30 November 2016.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi C DPRK Aceh Selatan, Kamalul, mengatakan dengan terus meningkatnya masyarakat terjangkit penyakit DBD sejak tiga bulan terakhir telah membuktikan bahwa Kabupaten Aceh Selatan sekarang ini sudah “darurat” DBD.

Namun pihaknya menyayangkan meskipun kondisi sekarang ini sudah sangat mengkhawatirkan, Dinas Kesehatan Aceh Selatan dinilai belum melakukan langkah pencegahan secara maksimal.

“Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras sikap Dinas Kesehatan Aceh Selatan karena meskipun sekarang ini jumlah masyarakat terjangkit DBD sudah tergolong sangat banyak, namun belum terlihat langkah penanganan yang serius,” jelasnya.

Legislator dari Partai Golkar ini menyatakan, bukti kurang seriusnya pihak Dinas Kesehatan dalam mengatasi penyakit tersebut terlihat dari semakin meningkatnya jumlah penderita DBD.

“Seperti di Kecamatan Kluet Selatan dan Kluet Timur, setahu saya sampai saat ini belum pernah dilakukan pengasapan (fogging) dan pemberian bubuk abate untuk membasmi jentik nyamuk. Tidak hanya itu, pihak Dinkes juga terkesan kurang serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” lanjutnya.

Karena itu, Kamalul meminta kepada Bupati Aceh Selatan segera mengevaluasi kinerja Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan yang dinilainya berkinerja kurang maksimal.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan Mardhaleta M Taher membantah pihaknya tidak melakukan penanganan maksimal di lapangan. Menurutnya, setiap temuan kasus masyarakat terjangkit DBD pihaknya langsung melakukan langkah pencegahan dengan cara penyemprotan asap (fogging) serta tindakan lainnya.

“Namun langkah fogging tersebut baru dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan langkah Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang bertujuan untuk mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat tinggal penderita dimaksud. Jadi atas dasar itu, tidak mungkin di seluruh wilayah yang masyarakatnya terjangkit DBD difogging, karena bisa jadi penderita DBD itu terjangkit ditempat lain kemudian yang bersangkutan pulang ke rumahnya,” papar Mardhaleta.

Terhadap wilayah yang dinilai berpotensi penularan dan penyebaran DBD berdasarkan hasil PE, pihaknya mengaku telah melakukan langkah pencegahan secara maksimal selama ini diantaranya adalah telah melakukan langkah penyemprotan asap (fogging) untuk membasmi jentik-jentik nyamuk.[Hendri Z]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here