JAKARTA – Sejak 2006 lalu, jamaah haji asal Aceh mendapat dana kompensasi dari rumah waqaf Baitul Asyi (Rumah Aceh) di Mekkah. Selama ini dana tersebut dibagikan di Mekkah, sebagian besar juga dibelanjakan di sana. Seandainya dana itu dibagikan di Aceh, maka dana besar tersebut akan beredar dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Aceh.

Hal tersebut disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI asal Aceh, H Firmandez. Komisi ini membidangi urusan sosial dan agama, terutama terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji.

“Pemerintah Aceh harus mengusahakan agar dana baitul asyi itu dibagikan di Aceh saja, setelah jamaah haji kembali ke tanah air. Jadi nantinya dana itu bisa dibelanjakan dan beredar di Aceh. Ini akan membantu pertumbuhan ekonomi daerah,” harap H Firmandez.

Setiap tahun haji, ada puluhan miliar rupiah dana kompensasi Baitul Asyi yang diterima jamaah haji asal Aceh dari pengelola rumah waqaf Habib Bugak Asyi tersebut. “Ini keistimewaan jamaah haji asal Aceh, Aceh punya rumah waqaf di Arab Saudi, keuntungan dari pengelolaan penginapan tersebut dikembalikan kepada jamaah haji Aceh sebagai kompensasi penginapan selama menjalankan ibadah haji,” jelas H Firmandez.

Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh ini melanjutkan, asal muasal Baitul Asyi yang dikenal sebagai Rumah Aceh merupakan, rumah milik ulama besar Aceh Habib Bugak Asyi yang diwakafkan untuk kepentingan jamaah haji asal Aceh tpada 18 Rabiul Akhir 1224 Hijriah.

Habib Bugak Asyi datang ke Mekkah pada tahun 1223 Hijriah pada masa Kerajaan Utsmaniah. Ia membeli tanah di daerah Qusyasyiah yang sekarang berada di sekitar daerah Bab Al Fath.

“Pemerintah Arab Saudi pada masa Raja Malik Sa’ud bin Abdul Azis, melakukan pengembangan Masjidil Haram. Tanah wakaf Habib Bugak untuk masyarakat Aceh terkena proyek tersebut. Rumah Habib Bugak digusur dengan pemberian ganti rugi,” ungkap H Firmandez.

Setelah itu, kata H Firmandez, Nazhir (Badan Pengelola) tanah wakaf Habib Bugak Asyi menggunakan uang tersebut untuk membeli dua lokasi lahan yakni di daerah Ajyad sekitar, 500 dan 700 meter dari Masjidil Haram. Kedua tanah ini kemudian menjadi aset wakaf.

Lahan pertama dengan jarak 500 meter dari Masjidil Haram dibangun hotel bintang lima dengan kamar sekitar 350-an unit. Di lahan kedua dengan jarak 700 meter dari Haram, dibangun hotel bintang lima dengan kamar sekitar 1.000 unit.

“Dari keuntungan lainnya, Nazhir membeli dua areal lahan seluas 1.600 meter persegi dan 850 meter persegi di Kawasan Aziziah. Jadi keuntungan dari pengelolaan Baitul Asyi ini puluhan miliar setiap tahunnya dibagikan sebagai kompensasi bagi jamaah haji asal Aceh,” lanjutnya.

Kompensasi itu diterima jamaah haji asal Aceh sebagai pengganti uang sewa rumah. Untuk jangka panjang Nazhir (Badan Pengelola) tanah wakaf Habib Bugak Asyi akan membangun penginapan di Mekah yang dapat menampung semua jemaah haji asal Aceh.

“Namun, sebelum penginapan tersebut selesai dibangun, maka Nazhir akan memberikan pengganti uang sewa rumah kepada jemaah haji asal Aceh, sesuai dengan kemampuan keuangan Nazhir,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here