Banjir di Kabupaten Aceh Timur menyebabkan kerugian besar bagi sektor perikanan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa kerugian yang ditimbulkan akibat banjir diperkirakan mencapai Rp2,64 triliun. Banjir melanda ribuan hektar tambak ikan, udang, dan tambak budi daya, serta merusak fasilitas pendukung seperti pintu air, tanggul tambak, dan peralatan budi daya.
Afifullah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur, menjelaskan bahwa sebagian besar pembudi daya perikanan gagal panen karena banjir yang berlangsung cukup lama. Akibatnya, banyak masyarakat pesisir dan pedesaan kehilangan sumber penghasilan mereka. Selain kerusakan fisik, banjir juga mengganggu ekosistem perairan dengan penurunan kualitas air yang dapat memicu kematian massal ikan dalam waktu panjang.
Pemerintah daerah saat ini fokus pada penanganan tanggap darurat dan memenuhi kebutuhan dasar pengungsi. Namun, Afifullah menekankan pentingnya perhatian khusus untuk pemulihan sektor perikanan. Sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Timur, dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat sangat diharapkan untuk membantu memulihkan sektor perikanan yang terdampak parah oleh banjir tersebut.
Bencana banjir hidrometeorologi di Akhir November 2025 ini telah mengenai 443 gampong di 24 kecamatan Kabupaten Aceh Timur, dengan total sebanyak 290.582 jiwa dari 81.603 keluarga terdampak akibat bencana tersebut.
