Sunday, October 11, 2026

**Bukan Sekadar Tren: Cara Terapkan AI untuk Akselerasi Bisnis**

Share

Lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, dan profesional lintas industri berkumpul dalam Mekari Conference 2026 bertajuk “AI at Work”. Forum ini membahas cara perusahaan di Indonesia memanfaatkan kecerdasan buatan secara produktif tanpa mengabaikan keamanan data, tata kelola teknologi, dan peran manusia dalam pengambilan keputusan.

Konferensi tersebut mempertemukan pelaku usaha, pembuat kebijakan, serta pemimpin transformasi digital untuk membicarakan dampak AI terhadap masa depan bisnis Indonesia. Pembahasannya berlangsung ketika adopsi AI di dalam negeri meningkat, tetapi kesiapan organisasi belum sepenuhnya mengikuti antusiasme pekerja dan perusahaan.

Adopsi AI tumbuh, kesiapan organisasi masih tertinggal

Laporan ASEAN Intelligence 2026 mencatat 62 persen perusahaan Indonesia telah menjadi first mover dalam adopsi AI di kawasan Asia Tenggara. Angka tersebut menunjukkan percepatan pemanfaatan teknologi di dunia usaha.

Namun, survei Salesforce 2026 menunjukkan adanya kesenjangan antara kebiasaan pekerja dan dukungan perusahaan. Sebanyak 70 persen pekerja Indonesia merasa lebih percaya diri menggunakan AI di tempat kerja karena pengalaman mereka menggunakan teknologi tersebut secara personal. Meski demikian, baru 33 persen yang mengaku memperoleh pelatihan AI resmi dari perusahaan.

Kesenjangan serupa terlihat pada tingkat integrasi AI. Data yang dipaparkan dalam konferensi menunjukkan baru sekitar 26 persen perusahaan di Indonesia yang telah mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam operasional bisnis.

Kondisi itu turut memunculkan fenomena Shadow AI, yakni penggunaan aplikasi AI pribadi atau layanan yang tidak mendapat otorisasi perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Praktik tersebut dinilai meningkatkan risiko kebocoran data dan pelanggaran privasi perusahaan.

Bahas kebijakan, keamanan data, hingga produktivitas

Mekari Conference 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari sektor pemerintahan, teknologi, perbankan, dan industri. Mereka antara lain Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia periode 2014–2019; Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia OpenAI; Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia; serta Aldo Rambie, Head of Industry Meta Indonesia.

Daftar pembicara juga mencakup Prof. Rhenald Kasali, Founder Rumah Perubahan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; Dr. Wani Sabu, Senior Advisor Fraud Banking Investigation BCA; dan Risman Adnan, Chief Technology Officer Paragon Corp. Sejumlah pemimpin bisnis, regulator, serta praktisi teknologi lainnya turut hadir dalam forum tersebut.

Kehadiran para pembicara itu membawa perspektif mengenai arah kebijakan publik, kesiapan infrastruktur digital, keamanan data, tata kelola teknologi, transformasi budaya kerja, dan penerapan AI yang berdampak pada bisnis.

Dorong penerapan AI yang terukur dan bertanggung jawab

Melalui diskusi panel dan paparan utama, konferensi membahas masa depan produktivitas serta daya saing ekonomi nasional. Peserta juga diajak memahami strategi membangun organisasi berbasis AI atau AI-Powered Enterprise, sekaligus menyiapkan langkah untuk mengelola risiko penggunaan teknologi di lingkungan kerja.

Aspek tata kelola, keamanan data, dan mitigasi Shadow AI menjadi bagian khusus dalam pembahasan. Forum ini juga menekankan pentingnya konsep Human-in-the-Loop untuk mempertahankan kualitas keputusan manusia ketika otomatisasi semakin luas digunakan.

Dari sisi operasional, para pakar memaparkan penggunaan Conversational AI dan Agentic AI untuk mengubah pengalaman pelanggan. Mereka juga membahas otomatisasi tanpa kode atau No-Code Automation untuk mempercepat alur kerja lintas fungsi, serta strategi pengembangan talenta dan kepemimpinan dalam menghadapi perubahan budaya kerja akibat AI.

Source link

Berita Lainnya

Berita Terbaru