BMKG Aceh mencatat bahwa hingga tahun 2025, provinsi paling barat Indonesia ini telah mengalami sebanyak 1.556 gempa bumi. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, mengungkapkan bahwa dari total gempa tersebut, 75 di antaranya terasa oleh penduduk setempat. Gempa terbesar mencapai magnitudo 6,3 dan kedalaman mencapai 222 kilometer. Mayoritas gempa memiliki kedalaman di bawah 60 km, dengan hanya sedikit yang tergolong dalam kategori menengah di atas 60 km. Meskipun jumlah gempa meningkat 39 persen dibandingkan tahun sebelumnya, Andi juga mencatat lima gempa signifikan dengan magnitudo yang cukup tinggi.
Selain itu, terdapat pola tertentu dalam kejadian gempa bumi di Aceh sepanjang tahun 2025. Andi menyoroti bulan September sebagai bulan dengan jumlah gempa terbanyak, diikuti oleh Oktober, November, dan Desember. Hal ini menjadi pengingat bagi masyarakat Aceh untuk lebih memahami pola, distribusi, dan karakteristik gempa bumi sebagai langkah kesiapsiagaan. Andi pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus waspada, mempersiapkan diri dengan perlengkapan evakuasi dan mengikuti informasi resmi dari BMKG. Kesiapsiagaan hari ini diakui sebagai langkah keselamatan di masa depan yang lebih baik.
