Aksi Hari Bumi di Krueng Jaling: FJL & Pemuda Jantho
Peringatan Hari Bumi di Krueng Jalin, Aceh Besar, Rabu (22/4/2026), berubah menjadi suara keras dari warga dan pegiat lingkungan yang resah melihat kerusakan alam di depan mata. Ikatan Pemuda Jantho Lestari bersama Forum Jurnalis Lingkungan Aceh menjadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa sungai yang dulu bersih dan menjadi penopang hidup kini kian tertekan oleh aktivitas tambang ilegal. Di kawasan yang berdekatan dengan Cagar Alam Jantho itu, keresahan bukan lagi soal ancaman, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan selama bertahun-tahun.
Sungai yang Menghitam, Ekonomi Warga yang Melemah
Krueng Jalin yang dahulu menjadi sumber air dan kehidupan warga kini disebut tidak lagi menunjukkan kondisi alaminya. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, air sungai berubah keruh dan tercemar, menandai kerusakan yang terus dibiarkan tanpa langkah penanganan yang tegas. Yusri, perwakilan Ikatan Pemuda Jantho Lestari, mengatakan dampaknya tidak berhenti pada lingkungan. Warga yang menggantungkan hidup pada sungai ikut kehilangan mata pencaharian, sementara aktivitas ekonomi di sekitar wilayah itu ikut melemah.
Tambang Ilegal Dinilai Makin Dekat ke Kawasan Lindung
Koordinator Forum Jurnalis Lingkungan, Fauzul Munandar, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai kerusakan biasa. Menurut dia, tambang ilegal telah masuk dan merusak kawasan Cagar Alam Jantho, sekaligus berdampak pada aliran Krueng Aceh. Kondisi itu, kata Fauzul, memperlihatkan bahwa kejahatan lingkungan terus bergerak tanpa hambatan berarti. Karena itu, publik kembali mempertanyakan keseriusan aparat dalam menindak praktik yang merusak ruang hidup masyarakat dan kawasan lindung.
Penanaman Pohon sebagai Tanda Perlawanan
Di tengah aksi protes, para peserta juga menanam puluhan pohon di sepanjang Sungai Jalin. Langkah itu menjadi simbol bahwa upaya menyelamatkan lingkungan tidak berhenti pada orasi atau kecaman semata. Bagi para peserta, penanaman pohon adalah bentuk perlawanan yang paling konkret untuk mengingatkan bahwa kerusakan alam tidak boleh dinormalisasi. Di tengah sungai yang makin keruh dan kawasan yang makin terancam, aksi Hari Bumi ini menegaskan satu hal: perjuangan menjaga Krueng Jalin masih jauh dari selesai.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
