Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di dunia bisnis mulai memasuki tahap baru. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut memiliki AI agent untuk mengotomatisasi pekerjaan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan produktivitas. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan berbagai agent tersebut terhubung dengan proses bisnis dan benar-benar menghasilkan nilai bagi perusahaan.
Perusahaan riset pasar global IDC memproyeksikan jumlah AI agent di seluruh dunia mencapai sekitar 1,3 miliar pada 2028. Dua tahun setelahnya, sebanyak 45 persen perusahaan diperkirakan telah mengorkestrasi AI agent dalam skala besar. Proyeksi itu menggambarkan cepatnya perluasan penggunaan teknologi tersebut di lingkungan perusahaan.
Dari jumlah agent ke nilai bisnis
Namun, peningkatan jumlah AI agent tidak otomatis menghasilkan manfaat bisnis. Banyak perusahaan mengembangkan agent dengan menggunakan beragam tools, sementara data yang dipakai masih tersebar dalam silo. Kondisi tersebut dapat menghambat agent dalam memahami informasi secara utuh. Celah keamanan dan pengembangan yang berhenti pada tahap awal juga menjadi persoalan yang dapat mengurangi manfaat penerapan AI agent.
Director Business Development & Innovation PT Multipolar Technology Tbk, Halim Hartono Perdana, mengatakan perusahaan tidak cukup hanya mengumpulkan atau memperbanyak AI agent. Menurut dia, setiap agent perlu memahami konteks bisnis, terhubung dengan data serta alur kerja yang sesuai, dan mampu menghasilkan keluaran yang mendukung sasaran perusahaan.
“Yang lebih penting adalah memastikan agent-agent tersebut memahami konteks bisnis, terhubung dengan data dan alur kerja (workflow) yang tepat, serta menghasilkan output yang benar-benar mendukung tujuan bisnis. Di sinilah transformasi AI mulai bergeser dari sekadar penggunaan teknologi menjadi perubahan cara perusahaan bekerja,” kata Halim.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar bertema “The Next Frontier of Enterprise Intelligence: Unlocking Business Value with Autonomous AI” yang diselenggarakan Multipolar Technology bersama Microsoft Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Tiga tantangan dalam memperluas penggunaan
Halim menyebut setidaknya ada tiga tantangan utama ketika perusahaan mulai memperluas pemanfaatan AI agent. Tantangan pertama berkaitan dengan konteks bisnis. Agent membutuhkan akses sekaligus pemahaman terhadap dokumen, percakapan, alur kerja, dan berbagai informasi lain agar dapat memberikan respons serta mengambil tindakan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Tanpa konteks yang memadai, agent berisiko bekerja hanya berdasarkan informasi yang terbatas atau terpisah dari proses kerja yang sebenarnya. Karena itu, keterhubungan antara agent, data, dan workflow menjadi bagian penting agar teknologi tersebut tidak berhenti sebagai alat otomatisasi yang berdiri sendiri.
Tantangan kedua menyangkut keamanan dan tata kelola. Semakin banyak agent yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan terhadap visibility, control, dan safeguards. Perusahaan juga memerlukan mekanisme governance yang konsisten untuk mengawasi penggunaan agent dan memastikan penerapannya tetap berada dalam kendali organisasi.
