Sunday, October 11, 2026

Aceh Optimistis Jaga Surplus Beras Meski Sawah Terdampak Bencana

Share

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh memperkirakan provinsi itu masih mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat meski sekitar 57 ribu hektare sawah terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Produksi padi memang diproyeksikan turun, tetapi Aceh diyakini tetap berada dalam posisi surplus.

Pelaksana Tugas Kepala Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia, menyampaikan hal tersebut di Aceh Jaya, Minggu. Ia mengatakan, luasan sawah yang terdampak membuat pemerintah harus meninjau kembali target produksi padi tahun ini, dari semula 1,6 juta ton menjadi 1,4 juta ton gabah.

Target produksi direvisi

“Dalam perjalanan mungkin kita akan lakukan revisi target dari 1,6 juta ton menjadi 1,4 juta ton karena ada sekitar 57 ribu hektare sawah terdampak bencana,” ujar Azanuddin.

Menurut dia, luas baku sawah di Aceh mencapai 202 ribu hektare. Dampak bencana terhadap areal tersebut cukup besar. Azanuddin menyebut sekitar 35 persen dari luas baku sawah Aceh mengalami kerusakan.

Meski demikian, penurunan target produksi tidak serta-merta membuat Aceh kekurangan beras. Distanbun menghitung, produksi 1,6 juta ton gabah setara dengan sekitar 900 ribu ton beras setelah dikonversi. Sementara itu, kebutuhan beras masyarakat Aceh diperkirakan sekitar 600 ribu ton per tahun.

Surplus tetap dipertahankan

Dengan proyeksi awal tersebut, Aceh memiliki potensi surplus sekitar 300 ribu hingga 400 ribu ton beras. Sebagian surplus itu selama ini dipasarkan ke Medan, Sumatera Utara.

Apabila target produksi turun menjadi 1,4 juta ton gabah, hasil konversinya diperkirakan masih mencapai sekitar 800 ribu ton beras. Jumlah itu tetap lebih tinggi dibandingkan kebutuhan beras Aceh yang berada di kisaran 600 ribu ton per tahun.

“Jadi ada 300 sampai 400 ribu ton kita itu selalu surplus. Ini selama ini sering dijual ke Medan,” kata Azanuddin.

Ia menegaskan, kondisi surplus tersebut bukan hanya terjadi dalam satu periode produksi. Aceh, kata dia, telah berada dalam kondisi surplus gabah dan beras selama hampir satu dekade terakhir.

“Karena Aceh selama hampir satu dekade terakhir tetap berada dalam kondisi surplus, baik gabah maupun beras,” ujarnya.

Azanuddin mengakui kerusakan sawah akibat bencana memberi dampak besar terhadap produksi pertanian. Namun, berdasarkan perhitungan kebutuhan dan hasil produksi yang masih dapat dicapai, Distanbun Aceh meyakini pasokan beras untuk masyarakat tetap tercukupi.

“Walaupun kita sekitar 35 persen ini kerusakan sawah kita dari luas baku sawah kita, walaupun turun target kita nanti, Insya Allah dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh Aceh kita masih meng-cover itu,” demikian Azanuddin Kurnia.

Source link

Berita Lainnya

Berita Terbaru