Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, tercatat bahwa Aceh mengalami deflasi 0,15 persen pada bulan Januari 2026 setelah dua bulan bencana. Angka deflasi ini terjadi jika dibandingkan dengan bulan Desember 2025 atau m-to-m (bulan ke bulan). Plh Kepala BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, menyatakan bahwa deflasi tersebut dipicu oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami deflasi sebesar 2,01 persen. Beberapa komoditas yang mempengaruhi deflasi ini antara lain telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng. Namun, jika dilihat secara tahunan (y-on-y), Aceh mengalami inflasi sebesar 6,69 persen pada Januari 2026 dibandingkan dengan Januari 2025. Data inflasi menurut kelompok pengeluaran juga menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,46 persen. Terdapat lima daerah atau kota yang dihitung inflasinya di Aceh, yaitu Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,60 persen, sementara inflasi paling rendah terjadi di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat sebesar 5,55 persen. Pada bulan Januari 2026, inflasi tahunan terjadi di seluruh wilayah penghitungan inflasi. Inflasi tertinggi berada di Kota Lhokseumawe sebesar 0,86 persen, sedangkan Kota Banda Aceh mengalami deflasi terdalam sebesar 0,81 persen.
Share
Berita Lainnya
