Abdya Pecahkan Rekor MURI: 15 Ribu Lemang dan 34 Ribu Tape Warnai HUT ke-24
Perayaan Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tahun ini tak berhenti pada seremoni biasa. Di bantaran sungai Krueng Beukah, Gampong Lhung Asan, Blangpidie, ribuan warga justru berkumpul dalam satu tradisi besar yang menggabungkan rasa syukur, kebersamaan, dan kebanggaan daerah. Dari dapur-dapur dadakan yang berjajar, aroma bambu terbakar dan santan yang menguar menjadi penanda dimulainya Meuseraya Toet Leumang, sebuah perayaan kuliner massal yang berhasil mencatatkan nama Abdya dalam rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Ribuan Lemang Dibakar Serentak di Krueng Beukah
Lebih dari 15 ribu lemang dibakar bersamaan dalam agenda tersebut, disertai penyajian 34 ribu tape. Jumlah itu bukan hanya mencolok dari sisi angka, tetapi juga memperlihatkan skala partisipasi masyarakat yang terlibat langsung dalam tradisi makan bersama khas Aceh itu. Suasana di lokasi tampak hidup, dengan warga saling membantu, mengatur bahan, hingga memastikan proses memasak berjalan serentak dan tertib.
Meuseraya Toet Leumang kemudian menjadi lebih dari sekadar rangkaian acara ulang tahun kabupaten. Ia berubah menjadi panggung budaya yang memperlihatkan bagaimana tradisi lokal masih punya ruang kuat di tengah kehidupan masyarakat. Di tengah kesibukan itu, yang menonjol bukan hanya hasil akhirnya, melainkan kerja kolektif yang menyatukan banyak tangan dalam satu tujuan.
Abdya Resmi Masuk Catatan MURI
Perwakilan MURI, Luthfi Syah Pradana, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Abdya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, rekor ini menjadi bentuk pengakuan atas kekompakan daerah dalam menjaga tradisi sekaligus menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi publik. Ia juga berharap capaian itu dapat memberi dorongan positif bagi kemajuan Abdya ke depan.
Pencatatan rekor ini menempatkan Abdya sebagai pemegang rekor dunia resmi di kategori yang berkaitan dengan pelaksanaan tradisi kuliner massal. Bagi masyarakat setempat, pengakuan itu menjadi kebanggaan tersendiri karena tradisi yang selama ini hidup di tengah warga kini mendapat perhatian lebih luas.
Tradisi, Syukur, dan Dorongan Ekonomi Lokal
Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak semata-mata soal prestasi. Ia menyebutnya sebagai cerminan kebersamaan masyarakat dalam merawat budaya yang diwariskan turun-temurun. Tradisi toet leumang, kata dia, memiliki makna filosofis sebagai ungkapan syukur yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, terutama pada momen-momen keagamaan seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Safaruddin juga menyoroti dampak ekonomi dari gelaran itu. Kebutuhan bambu, beras ketan, dan bahan pendukung lain dinilai memberi ruang gerak bagi perekonomian warga. Dengan begitu, rekor yang diraih Abdya tidak hanya berhenti pada pencatatan prestasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat ikut menggerakkan aktivitas ekonomi dan memperkuat ikatan sosial. Ia menekankan pentingnya mewariskan kebiasaan ini kepada generasi muda agar kearifan lokal tetap hidup dan tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
