Sunday, October 11, 2026

123 Dokter Spesialis Belajar di RSUDZA

Share

Sebanyak 123 dokter umum peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis, Subspesialis, dan Fellowship Angkatan II Tahun 2026 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) mulai menjalani orientasi pendidikan klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.

Orientasi ini menjadi tahap awal sebelum para peserta mengikuti proses pendidikan klinis di rumah sakit rujukan utama Aceh tersebut. Direktur RSUDZA, Dr. Muhazar Harun, mengatakan proses pendidikan harus berjalan dengan menempatkan kompetensi, integritas, dan keselamatan pasien sebagai landasan utama.

Peserta diminta bekerja sesuai kewenangan

Menurut Muhazar, peserta didik tidak cukup hanya menguasai ilmu dan keterampilan klinis. Mereka juga dituntut menerapkan etika, membangun komunikasi yang baik, menunjukkan empati, serta menjalankan tanggung jawab profesional ketika memberikan pelayanan kepada pasien.

“Sejak hari pertama berada di RSUDZA, peserta didik adalah bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Setiap keputusan, komunikasi, pencatatan, dan tindakan dapat mempengaruhi mutu pelayanan serta keselamatan pasien,” kata Muhazar di Banda Aceh, Minggu.

RSUDZA merupakan rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan utama di Aceh. Dalam menjalani pendidikan di sana, peserta akan berhadapan dengan berbagai kasus kompleks dan pasien dari latar belakang yang beragam. Karena itu, keselamatan pasien harus menjadi prioritas dalam setiap kegiatan pendidikan maupun pelayanan.

Muhazar meminta peserta bekerja berdasarkan kompetensi dan kewenangan klinis yang dimiliki serta mengikuti jenjang supervisi. Peserta juga diminta segera berkonsultasi jika menghadapi kondisi yang berada di luar kemampuan mereka.

“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk profesionalisme dan tanggung jawab kepada pasien,” ujarnya.

Lingkungan pendidikan harus aman dan beretika

Selain kemampuan klinis, peserta didik diingatkan untuk menjaga etika, komunikasi, kerahasiaan medis, dan martabat pasien. RSUDZA juga menekankan perlunya lingkungan pendidikan yang aman, saling menghormati, serta bebas dari perundungan dan budaya senioritas yang tidak mendidik.

Para supervisor, ketua kelompok staf medis (KSM), konsultan, dan tenaga pendidik klinis diminta memberikan bimbingan secara konsisten, adil, dan manusiawi. Pada saat yang sama, peserta diingatkan agar tidak menjadikan jumlah kasus atau pemenuhan logbook sebagai satu-satunya ukuran dalam menjalani pendidikan.

“Setiap pasien adalah amanah, bukan sekadar objek pembelajaran,” tegas Muhazar.

RSUDZA bersama Fakultas Kedokteran USK berkomitmen memperkuat integrasi pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan dokter spesialis dan subspesialis yang kompeten, berintegritas, serta mampu memberikan pelayanan berkualitas.

Source link

Berita Lainnya

Berita Terbaru