,

Yang Tua yang Perkasa di Tumpukan Pasir

Usia mereka tak muda lagi, rata-rata sudah di atas 50 tahun. Sejatinya mereka istirahat di rumah menikmati masa tuanya. Tapi mereka yang sebagian besar kaum hawa itu tidak berpangku tangan saja, lebih memilih bermandi peluh di bibir pantai, mengumpulkan pasir dan kerikil untuk dijual ke penampung.

Saban hari puluhan perempuan berusia lanjut menambang pasir di pesisir pantai Samadua, Aceh Selatan. Wajah-wajah perempuan itu sudah mulai keriput, badan lusuh dan berjalan bungkuk, kulit hitam begam karena saban hari ditimpa matahari.

Peluh mengalir di sekujur tubuh membasahi pakaian lusuh yang melekat di badannya. Langkah tegap kadang-kadang gontai, namun  senyuman masih tersungging di wajahnya, menampakkan jiwa-jiwa yang sabar dan tegar menapaki kehidupan yang menyiratkan begitu beratnya beban yang harus dipikul.
 
Kondisi yang terlihat miris dan mengundang simpatik itu dijalani oleh sedikitnya sekitar 100 orang penduduk Gampong Baru, Gampong Gadang dan Desa Ladang, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Para pria dan wanita yang sudah berusia senja itu mengais rezeki di bibir pantai lautan Hindia di pinggir pantai desa setempat.

Berbekal bakul dan lori mereka menguras tenaga untuk mendapat sesuap nasi. Kadang kala tidak menghiraukan batas usia sudah melebihi setengah abad. Kondisinya harus bergerak cepat, bertarung, gigih, mengandalkan otot dan tenaga. Bagi mereka, berlumuran pasir dan basah kuyup diterpa pecahan ombak laut sudah hal biasa. Sudah menjadi rutinitas mereka setiap hari saat mengumpulkan kerikil dan pasir di pinggir laut.
 
“Sejak tahun 1982 atau tepatnya 34 tahun lamanya saya melakukan pekerjaan ini. tahun berganti zaman, namun belum ada perhatian pemerintah untuk menyalurkan bantuan. Lori yang kami gunakan ini dibeli dari uang pinjaman desa yang harus dibayar secara cicilan,” ungkap Dahniar (60) salahs eorang pengumpul pasir dan kerikil di pantai Kampung Baru, Samadua, Rabu, 26 Oktober 2016.
 
Seyokyanya, sambung Dahniar, perempuan sebaya saya tidak mungkin lagi bekerja seperti ini. Tetapi apa hendak dikata, demi memenuhi kebetuhan hidup keluarga sehari-hari mau tidak mau harus nimbrung bersama teman-temannya yang lain. Sebab, ujarnya, sebagai kepala keluarga sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam, dirinya harus berjuang keras demi menutupi kebutuhan hidup dirinya bersama dua orang buah hatinya.
 
“Faktor beban hidup pula yang mengakibatkan kedua anak saya putus sekolah hingga berumah tangga. Ya, kalau dibilang mengeluh sih sudah barang pasti. Yang penting halal, walaupun dapat sedikit yang penting tetap berkah dan bahagia. Faktor usia membuat saya tidak mampu mendapat banyak penghasilan. Lebih baik seperti ini dari pada menyusahkan orang lain. Allah itu maha pengasih dan penyanyang,” ujarnya.
 
Menurut dia, rata-rata yang menggais rezeki dari butiran pasir dan kerikil berusia dewasa, janda dan duda serta orang-orang susah. Pekerjaan ini disebabkan tidak ada lapangan kerja lain yang sesuai batas usia. Apapun yang mereka rasakan di tempat itu sudah menjadi kebiasaan demi untuk mempertahankan hidup.
 
Penambang pasir dan kerikil lainnya, Khairunas (48), menyampaikan, setiap penjualan pasir dan kerikil per mobil atau sebanyak satu meter kubik dibayar retribusi sebesar Rp 5.000. Menurutnya, retribusi itu sesuai kesepakatan hasil musyawarah dan dipungut oleh panitia untuk disetor ke beberapa pos.
 
“Harga jual pasir Rp 40 ribu per meter kubik atau satu mobil pick-up kecil. Kalau kerikil harganya menurut jenis. Kerikil kecil-kecil (kepala pasir) Rp 85.000 per meter kubik, kerikil kasar Rp 60.000 per meter kubik. Satuan harga ini masing-masing ditambah biaya retribusi untuk menunjang PAD sebesar Rp 5.000. Artinya, hasil cucuran keringat kami turut menyumbang PAD,” terang Khairunas.
 
Ditanya berapa pendapatan rata-rata perhari, Khairunas hanya tersenyum dan menghela napas. “Tergantung, jika materialnya mudah dikumpul dan banyak di hempas gelombang, rezeki akan mudah diperoleh. Dalam satu hari bisa dapat dua kubik, tetapi jika materialnya kurang, tentunya jadi rebutan dan harus berjuang keras. Paling dapat satu hari setengah meter kubik, bahkan tidak ada sama sekali,” jawabnya polos seraya mengatakan, efeknya untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari terpaksa harus bayar hutang tutup hutang dan ngutang lagi.
 
Khairunas memperkirakan, saat butiran pasir dan kerikil sedang tersedia banyak di pinggir pantai, tiga kelompok pengumpulan (Gampong Baru, Gadang dan Ladang) bisa menghasilkan diatas 50 meter kubik kerikil dan pasir per harinya. Sehingga, perharinya bisa menyumbang Rp 250.000 retribusi untuk PAD.

Namun kadang kala pembayaran kerikil yang mereka kumpulkan tak juga mudah, sering tidak lancar sebab tak jarang ada konsumen tertentu yang ngutang hingga berbulan-bulan. “Jika terjadi seperti itu maka sama dengan sudah jatuh ketimpa tangga lagi,” sesalnya.
 
Pengurus pengumpul pasir dan kerikil Gampong Baru yang juga Kepala Dusun Suka Maju, Mushasil membenarkan hasil jerih payah penambang turut menyumbang retribusi untuk mendongkrak PAD sebesar Rp 5.000 per meter kubik. Dana yang dikumpulkan sebagian besar atau lebih kurang 50 persen disetor ke Kantor camat Samadua sebagai PAD. Sisanya disumbang untuk Gampong serta untuk insentif pengurus.
 
“Kalau tidak salah, penjualan bulan ini mencapai 100 meter kubik. Jumlah pengumpul pasir dan kerikil yang terdiri tiga kelompok  lebih kurang 100 orang. Setahu saya, sejauh ini memang belum ada perhatian pemerintah untuk membantu perekonomian para penambang pasir tersebut yang berasal dari keluarga miskin tersebut. Kami berharap partisipasi pemerintah, setidaknya bisa mengalokasikan bantuan lori untuk kelancaran mereka mengumpul pasir dan batu kerikil,” pinta Mushasil.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *