,

Warga Panton Luas Harus Panjat Pohon Cari Sinyal HP

TAPAKTUAN – Meskipun berada dalam wilayah Kota Tapaktuan, Ibu Kota Aceh Selatan, masyarakat Desa Panton Luas, harus memanjat pohon untuk mencari sinyal HP. Mereka menggantung HP di dahan, saat bunyi panggilan masuk mereka bergegas mengambilnya untuk berkomunikasi dengan kerabat serta sanak famili dari luar kampung mereka.

Desa Panton Luas dengan jumlah penduduk sekitar 600 jiwa berada di dataran tinggi yang berjarak sekitar 15 km dari jantung Kota Tapaktuan. Untuk menuju ke wilayah itu, masyarakat harus mendaki bukit dengan jalan yang sempit dan berkelok serta menanjak.

Mayoritas masyarakat setempat menggunakan moda transportasi kendaraan roda dua. Namun untuk mengangkut bahan makanan (sembako) serta untuk kepentingan siswa pergi ke sekolah, dioperasikan satu unit mobil pick up L 300 bak terbuka milik Dinas Perhubungan Aceh Selatan.

Karena tofografi wilayahnya berada di atas pegunungan, maka mayoritas masyarakat di desa itu bekerja sebagai petani di kebunnya masing-masing seperti pertanian Pala, Kakao, Kopi, Nilam, Cabai, Cengkeh serta berbagai komoditi pertanian lainnya.

Keberadaan perkampungan penduduk yang tidak jauh dari Pusat Kota Tapaktuan tersebut, ternyata tidak serta merta masyarakat setempat terjangkau sinyal Hp milik operator tertentu. Buktinya, sejak Indonesia merdeka hingga sekarang ini, mereka belum pernah merasakan nikmatnya kemajuan Teknologi Informasi (IT) berupa jaringan HP tersebut.

Untuk tetap bisa berkomunikasi lewat udara, sebahagian warga harus mencari ketinggian atau tempat tertentu yang bisa diakses jaringan atau signal seluler. Namun situasi itu belum tentu normal, frekwensi signal sering terputus secara tiba-tiba karena tidak stabil. Sehingga perkampungan penduduk tersebut terkesan masih terisolir dan terpencil.
 
“Jika mau berkomunikasi dengan hand phone kami harus datang ke Balai Pemuda. Di sana tempatnya tinggi dan terdapat sedikit signal. Namun upaya ini juga tidak efektif, masak kalau ngomong bersifat rahasia harus didengar orang lain. Beberapa tahun yang lalu warga desa ini pernah memasang penguat signal namun tidak berlangsung lama, karena alat itu tidak dapat difungsikan lagi alias sudah error,” jelas Eva, warga setempat, Selasa, 19 April 2016.
 
Ironisnya lagi, ada sejumlah warga harus menggantungkan pesawat hand phonenya di batang kayu yang memiliki jaringan. Namun langkah seperti itu hanya mampu dilakukan khusus kaum lelaki. Saat perangkat seluler berdering atau berbunyi, sipemilik cepat-cepat memanjat pohon untuk berkomunikasi dengan kerabat atau sipenelpon.
 
“Seperti inilah gambaran kehidupan kami. Kalau mau berkomunikasi dengan lancar terpaksa harus ke Kota Tapaktuan yang berjarak 15 Km, walaupun sudah larut malam. Saat-saat penting, tidak ada inisiatif lain kecuali berangkat ke ibu kota. Bagi yang tidak memiliki kenderaan bermotor mau tidak mau harus membuang malu untuk meminjam kendaraan punya tetangganya,” tambah Erna, warga lainnya.
 
Karena itu, pihaknya atas nama seluruh warga Desa Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, meminta kepada pihak Pemerintah untuk memfasilitasi atau menjembatani investor jasa telekomunikasi membangun tower telekomunikasi di wilayah tersebut, untuk memudahkan masyarakat berkomunikasi dengan dunia luar di era kemajuan teknologi sekarang ini.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *