,

Veteran Perang Menyambung Hidup dari Menulis Hikayat

Di kemiliteran, pangkat terakhirya Kapten. Ia pernah terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat. Di usia yang masih muda ia memilih pensiun, padahal karirnya masih mentereng. Kini menyambung hidup dari menulis hikayat.

Usianya tidak muda lagi, sudah 79 tahun, tapi masih sanggup berjalan tegak menjajakan hikayat karangannya dari satu toko ke toko lain. Di mana ada keramaian ia pasti singgah.

Tak ada yang menyangka kalau pria yang bernama Tgk M Hasyim Piah ini adalah mantan tentara. Ia mengakui kecakapannya dalam menulis hikayat diperolehnya dari bakat turun temurun dari keluarganya.

Rabu siang, 21 Juni 2017, ia menyambangi sebuah toko ponsel di kawasan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Anak muda pemilik toko ponsel tersebut merupakan pembeli setia hikayatnya. Setiap ada hikayat baru pasti di bawanya ke sana.

“Hikayat ini mampu saya ingat semua, saya baca lalu diketik oleh orang lain dan dicetak oleh orang lain juga di salah satu toko foto kopy dan ATK di kawasan Darussalam. Saya bayar kalau hikayat laku, saya cicil secara berkala kalau ada rezeki,” ungkap kakek kelahiran Gampong Sungai Lueng, Kota Langsa.

Ia mengaku selalu menumpang labi-labi (sodako) dari Montasik, Aceh Besar ketika menuju Kota Banda Aceh untuk menjajakan hikayatnya. Di Montasik ia tinggal bersama istri keduanya di Gampong Piyeung Mon Ara.

Kecakapannya dalam menulis hikayat, nazam Aceh dan syair diakui oleh akadmeisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Dr Ir Yuswar Yunus. Surat keterangan dari sang profesor yang telah dilaminating selalu di bawa dalam tas using bersama hikayatnya.

Beberapa hikayat Kek Piah yang sudah dicetak antara lain : Babul Hidayah Kisah Bahaya Sireibee, Keumala Intan (Kisah Nabi Yusuf), Kisah Raja Zamrud, Kisah Nubuat Nabi Muhammad dan Babul Akhirat, Kisah Aneuk Darohaka Amat Rhang Manyang, Hikayat Nabi Ibrahim, serta beberapa hikayat lainnya.

Selain menulis hikayat, M Hasyim Piah juga piawai mendengdangkan lagu-lagu klasik Aceh yang bernilai religi dan penuh petuah. Bukan itu saja, ia juga sangat piawai berpantun. Dua buku pantun Melayu karangannya yang telah diterbitkan adalah Kuntum Dendang Melayu Melati Pantun Kekasih dan Kumpulan Pantun Mawar Melati.

Kakek dengan enam anak dan 12 orang cucu ini, mengisahkan tentang perjuangan masa mudanya sebagai tentara di Aceh Timur, hingga pisah dengan istri pertamanya dan hijrah ke Aceh Besar untuk bertahan hidup.

“Saya sudah terlibat di tentara (TNI-red) sejak usia 9 tahun, kerja saya tukang masak di markas pasukan Pak Alamsyah. Saya masih kecil, tinggi saya waktu itu sama dengan panjang senjata yang dipakai tentara. Lalu saya minta ikut tes tentara Pak Alamsyah dan lulus,” kenangnya.

Sejak aktif di kemiliteran ia terlibat dalam beragai konflik, mulai dari pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indnesia (DI/TII) dan perang Cumbok di Aceh, hingga operasi pembebasan Irian Barat.

Sebagai tentara aktif pada masa itu, ia sangat bangga dengan pangkat kopral yang disandangnya. Sampai menjadi Kapten ia masih suka memakai pangkat kopral di bajunya.

“Jadi kapten tidak bebas, saya punya satu ajudan, ke mana mana diatur. Jadi saya copot pangkat kapten saya gantin dengan kopral, saya bebas kemana mana,” kenangnya sambil tersenyum.

Saat konflik melanda Aceh, sebagai tentara ia juga mengaku aman aman saja berpergian. Saat pemberontakan DI/TII yang dipimpin Abu Daod Bereueh meletus di Aceh, ia mampu menjalin hubungan baik dengan pemberontak.

“Saat pasukan saya melakukan operasi, tak ada yang tembak. Karena kami punya kode komunikasi khusus, saya ikat kain merah di ujung senjata. Mereka (pemberontak DI/TII-red) sering minta bantu, kasih kami dua tong peluru, ya saya kasih he he he,” tawa Kakek Piah sambil memperlihatkan gusinya yang ompong.

M Hasyim Muda kemudian menikah dengan seorang gadis asal Aceh Tamiang, ia dikarunia seorang anak, tapi kemudian meninggal. Usai dikirim ke Irian Jaya untuk operasi pembebasan Irian Barat, M Hasyim Piah memilih pensiun dari kemiliteran atas permintaan ibunya.

“Ibu saya takut saya pergi lagi seperti saat saya ke Irian Barat. Seharusnya saya pensiuan tahun 1986, tapi saya ajukan pensiun muda tahun 1961 dengan pangkat terakhir sebagai Kapten, usia saya waktu itu masih 23 tahun,” ungkapnya.

Bayangkan, jika ia melanjutkan karirnya di kemiliteran sampai pensiun di tahun 1986, pasti M Hasyim Piah akan menjadi salah seorang perwira tinggi TNI di Aceh. Namun takdir berkata lain.

Cerita miris justru terjadi saat ia memutuskan pensiun dari TNI. Ia mendapat pesangon dari pemerintah atas pensiun mudanya itu, tapi apa yana, uang pesangon dibawa lari oleh istrinya. Ia dipasah dan istrinya menikah dengan seorang pemuda.

“Uang pesangon saya waktu itu setara dengan 200 mayam emas. Kalau hitung-hitungan dengan mata uang sekarang 1 mayam Rp 1,7 juta, ya sekitar Rp 340 juta. Saya dipasah, uang pesangon dibawa lari, tapi setelah uang itu habis, ia diceraikan juga oleh pria itu,” jelasnya.

Kini Kakek M Hasyim Piah menjalani masa tuanya dengan menjajakan hikayat karangannya dari satu toko ke toko lainnya. Gurat-gurat keperkasaan masa mudanya masih kentara di wajah tuanya. “Kalau mandi saya selalu sikat pipi saya, walaupun sekarang sudah keriputan tapi tetap licin,” katanya sambil tertawa.[Iskandar Norman]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *