,

UGD Tanpa Listrik, Pelayanan Pasien di Puskesmas Terganggu

TAPAKTUAN – Unit Gawat Darurat (UGD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sawang, Aceh Selatan tanpa arus listrik. Akibatnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat terganggu. Anehnya lagi, bagunan Puskesmas juga tanpa septic tank.

Kepala Puskesmas Sawang, Aceh Selatan, Jhon Afrizal mengungkapkan akibat tidak adanya arus listri ke ruang UGD dan poly rawat jalan dan ruang perkantoran telah mengakibatkan pelayanan terhadap pasien gawat darurat tidak maksimal.
 
“Memang sejak Puskesmas ini diaktifkan pada 13 Februari 2017 lalu, pelayanan terhadap pasien tetap berjalan seadanya. Tapi khusus terhadap pasien gawat darurat yang harus masuk ruang UGD belum bisa ditangani secara maksimal, karena arus listrik PLN belum masuk meskipun jaringannya sudah dipasang,” kata Jhon Afrizal kepada wartawan di Sawang, Rabu 8 Maret 2017.
 
Padahal, lanjut Jhon Afrizal, selaku Puskesmas rawat inap yang harus beroperasi selama 24 jam, keberadaan fasilitas UGD merupakan kebutuhan mendesak yang wajib harus ada. Namun sayangnya, arus listrik PLN di fasilitas kesehatan yang sudah rampung dibangun tahun 2016 lalu itu baru teraliri di ruang rawat inap sedangkan di ruang lainnya belum tersedia termasuk ke rumah dinas tenaga medis.
 
“Arus listrik PLN yang telah masuk di ruang rawat inap itu pun sifatnya hanya sementara yang dipasang oleh pihak kontraktor pelaksana saat proyek itu sedang dikerjakan dulu. Artinya bahwa arus listrik yang ada sekarang ini masih jauh dari standar kebutuhan listrik sebuah fasilitas kesehatan,” sesal Jhon Afrizal.
 
Yang ironisnya lagi, sambung Jhon Afrizal, Puskesmas yang dibangun menghabiskan anggaran mencapai Rp 2,7 miliar lebih tersebut, justru tidak tersedia septic tank, tidak berfungsinya kamar mandi serta pintu dan jendela sangat sulit dibuka tutup akibat kosen jendela dan kosen pintu yang dipasang sudah retak dan miring.
 
“Kamar mandi termasuk septic tank dan suplai air dari sumur bor hanya tersedia di ruang rawat inap saja. Sedangkan di ruangan yang lain tidak tersedia. Yang jadi pertanyaannya adalah apakah kamar mandi dan toilet itu hanya dibutuhkan oleh pasien saja, sementara para tenaga medis apakah tidak butuh. Tapi yang anehnya, jangankan suplai air dan bak penampungan air termasuk septic tank, tingkat pintu kamar mandi saja tidak ada, kan ini sangat aneh,” sesalnya.
 
Tidak hanya itu, sambung Jhon Afrizal, karena Puskesmas tersebut berstatus rawat inap pihaknya merasa sangat perlu menstanbaykan tenaga medis jaga di instansi kesehatan itu selama 24 jam. Namun langkah itu mengalami kendala bagi pihaknya, karena rumah dinas tenaga medis yang tersedia dibagian belakang bangunan Puskesmas baru selesai dibangun sudah miring yang diduga akibat timbunan tidak padat.
 
Sedangkan terkait persoalan ruang UGD yang dibangun terpisah tembok dinding dengan ruang rawat inap, kata Jhon Afrizal, direncanakan akan di robohkan kembali dinding tembok tersebut pada tahun 2017 ini sehingga antara kedua bangunan itu akan menyatu kembali.
 
“Setelah persoalan itu kami laporkan kepada pihak Dinas Kesehatan, mereka sudah memberikan respon akan merehabilitasi kembali bangunan tersebut dengan cara dirobohkan dinding tembok bangunan lama lalu dibuat pintu dan lantai sehingga antara kedua bangunan itu akan menyatu,” ujarnya

Sementara itu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dari Dinas Kesehatan Aceh Selatan untuk pembangunan Puskesmas Kecamatan Sawang, Tarmizi menjelaskan bahwa pembangunan proyek oleh CV Agung Jaya Prima tersebut berlangsung dua tahap.

Untuk tahap pertama berlangsung pada tahun 2015 sebesar Rp 2,4 miliar sumber APBN. Karena pembangunan Puskesmas tersebut belum rampung seratus persen, kemudian Dinas Kesehatan Aceh Selatan kembali menganggarkan dana sebesar Rp 300 juta lebih pada tahun anggaran 2016 sumber dana Silpa Otsus tahun 2015.
 
“Saat pekerjaan tahap pertama tahun 2015 lalu saya tidak terlibat. Saya baru terlibat menjadi PPTK pada tahun 2016 untuk pekerjaan lanjutan. Anggaran sebesar Rp 300 juta lebih tersebut sebenarnya khusus diperuntukkan untuk pemasangan keramik bagian lantai bahwa dan lantai atas termasuk pemasangan plafon dan septic tank,” kata Tarmizi dihubungi wartawan di Tapaktuan, Rabu 8 Maret 2017.
 
Terkait masih adanya kekurangan sejumlah item pekerjaan yang lain, Tarmizi mengaku tidak mengetahuinya. Karena dia beralasan bahwa hanya bertanggungjawab terhadap penggunaan anggaran sebesar Rp 300 juta lebih tersebut untuk kelanjutan dari pekerjaan proyek tahun 2015.
 
“Terkait masih adanya kekurangan item pekerjaan yang lain itu di luar tanggungjawab dan tanpa sepengetahuan saya. Setahu saya untuk pemasangan keramik dan plafon sudah selesai dikerjakan. Sedangkan khusus terhadap pembuatan septic tank yang hingga saat ini belum di kerjakan, saya telah berulang kali menyampaikan kepada pihak rekanan atas nama H Ruslan, namun saya tidak mengetahui secara persis apa penyebabnya sehingga septic tank tersebut belum dibangun sampai sekarang ini,” ungkap Tarmizi. [Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *