,

Toke Suum Minta H Firmandez Perjuangkan Pembangunan Jalan dan Regulasi Pelabuhan Kuala Langsa

LANGSA – Wali Kota Langsa, Usman Abdullah alias Toke Suum meminta kepada Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, H Firmandez untuk memperjuangkan anggaran untuk pembangunan jalan ke Kuala Langsa.

Pasalnya, sepanjang 500 meter jalan tersebut di sekitar Wira Terapung Café (WTC) sering tergenang banjir rob dan pasang purnama. “Kasian anak-anak yang ingin sekolah, mereka harus menunggu air surut baru bisa melintas. Maka, kami minta kepada Pak H Firmandez di DPR RI untuk memperjuangkan peningkatan badan jalan ini agar tidak lagi tergenang,” jelas Toke Suum.

Toke Suum melajutkan, persoalan tergenangnya badan jalan ke Kuala Langsa itu sudah lama dan sudah sering disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Aceh dan kepeda pemerintah pusat melalui berbagai kesempatan, tapi hingga kini belum terealisasi.

“Masalah jalan itu bukan kewenangan Pemko Langsa, maka kita harap pemerintah mau memperhatikannya. Kita juga menginginkan adanya regulasi terkait Pelabuhan Kuala Langsa sehingga bisa berfungsi maksimal, dan bisa membangkitkan ekonomi daerah,” harap Toke Suum.

Menanggapi hal itu, H Firmandez mengatakan, akan membantu memperjuangkan hal tersebut, agar jalan ke Kuala Langsa itu bisa ditingkatkan, sehingga tidak lagi tergenang saat terjadinya banjir rob dan pasang purnama.

“Kalau jalan Kuala Langsa itu jalan provinsi, kita minta Pemerintah Aceh untuk melakukan penimbunan dan peningkatan jalan tersebut melalui dana Otsus. Tapi, kalau jalan itu jalan negara, maka akan kita perjuangka melalui Kementerian PUPR selaku mita kami di Komisi V DPR RI,” kata H Firmandez.

Selain itu kata H Firmandez, jalan ke Kuala Langsa harus benar-benar memenuhi standar, agar bisa menopang keberadaan pelabuhan di sana menjadi lebih optimal. Pihaknya juga akan memperjuangkan regulasi untuk pelabuhan Kuala Langsa agar pelabuhan tersebut bisa berfungsi sebagai pelabuhan ekspor impor.

“Pelabuhan Kuala Langsa ini kan dari zaman perjuangan dulu sudah terkenal sebagai pelabuhan internasional, hanya saja setelah Indonesia merdeka hingga sekarang fungsinya telah menurun, maka kita akan berupaya untuk memperjuangkan regulasinya ke permintah pusat, sebagaimana diharapkan Pak Wali Kota Usman Abdullah,” tegas H Firmandez.

Masih menurut H Firmandez, potensi wisata di sekitar daerah pelabuhan juga harus dikembangkan, seperti wisata sejarah, kuliner, dan taman edukasi di teman wisata hutan mangrove.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *